Geopolitik Global Memanas, Simak Proyeksi Harga Emas Dunia Pekan Depan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Sep 2026, 09:15
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Ilustrasi emas batangan. (Antara) Ilustrasi emas batangan. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga emas dunia pada perdagangan pekan depan berada dalam rentang USD4.102 hingga USD4.650 per troy ounce.

Ibrahim mengatakan, harga emas dunia pada perdagangan sebelumnya Jumat 11 September 2026 ditutup di level USD4.348 per troy ounce. 

Ia pun memproyeksi apabila mengalami koreksi level support pertama yang perlu diperhatikan berada di USD4.245 per troy ounce.

"Apabila mengalami koreksi penurunan support pertama itu di USD4.245 per troy ounce. Kemudian kalau seandainya turun lagi kemungkinan di USD4.102 per troy ounce," ucap Ibrahim dalam kajiannya, Minggu 13 September 2026.

Baca juga: Harga Emas Dunia Berpotensi Tembus USD4.668 per Troy Once Buntut Ketegangan Timur Tengah

Sebaliknya, apabila harga emas kembali menguat diperkirakan level resistance pertama berada di USD4.479 per troy ounce.

Bila penguatan berlanjut resistance berikutnya berada di level USD4.650 per troy ounce.

"Jadi dalam pekan depan harga emas dunia kemungkinan ditransaksikan di USD4.102 sampai di USD4.650," ungkapnya.

Ibrahim menjelaskan, fluktuasi harga emas dunia tidak terlepas dari sejumlah sentimen global diantaranya perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur.

Di Eropa Timur, perang antara Rusia dan Ukraina berpotensi berlangsung dalam waktu yang cukup panjang lantaran wilayah yang dikuasai Rusia masih menjadi salah satu persoalan utama.

Menurutnya, situasi tersebut membuat serangan antara kedua negara masih terus terjadi. Ukraina juga disebut menyasar sejumlah wilayah yang memiliki sumber daya strategis, termasuk minyak dan gas alam.

Kondisi tersebut kemudian memicu serangan balasan Rusia terhadap sejumlah kota besar di Ukraina, termasuk Kyiv, sehingga kembali meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.

"Kita tahu bahwa perang Rusia dan Ukraina itu kemungkinan besar akan lama. Ya bisa saja 3-4 tahun ke depan masih akan terjadi perang karena permasalahan wilayah Ukraina yang dikuasai oleh Rusia," ungkap Ibrahim.

Baca juga: Harga Emas Dunia Masih Bertahan di Atas USD4.000, Simak Proyeksinya

Ketegangan juga meningkat di Timur Tengah dimana konflik Amerika Serikat dan Iran yang terus memanas dan berpotensi memberikan dampak terhadap pasar komoditas global.

Situasi tersebut juga berdampak terhadap aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Menurutnya jumlah kapal yang melintas di jalur strategis tersebut saat ini hanya sekitar 7-10 kapal.

"Artinya apa, bahwa perang antara Amerika dan Iran ini masih akan terus panjang sehingga membuat harga minyak mentah terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan," tandasnya.

x|close