Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mendorong perubahan dalam pengelolaan konservasi alam nasional agar kelestarian keanekaragaman hayati tetap terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat sekitar.
Raja Juli mengatakan keberhasilan konservasi perlu dilihat melalui sejumlah indikator yang terukur. Hal itu mencakup pertumbuhan populasi satwa, kondisi ekosistem, efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, serta manfaat yang diterima masyarakat.
“Keberhasilan konservasi harus dapat terlihat dari indikator nyata, mulai dari peningkatan populasi satwa, kondisi ekosistem, efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, hingga manfaat yang kembali dirasakan masyarakat,” kata Menhut dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurut dia, persoalan konservasi saat ini semakin kompleks. Perubahan iklim, degradasi lingkungan, berkurangnya keanekaragaman hayati, dan kebutuhan pembiayaan untuk menjaga ekosistem menjadi sejumlah tantangan yang perlu dihadapi.
Baca Juga: Menhut Pastikan Perusak Hutan dan Alam di Kalteng Ditindak Tegas
“Krisis iklim dan degradasi lingkungan menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi bersama agar kekayaan alam Indonesia dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.
Raja Juli juga menyoroti kebutuhan untuk mengembangkan sumber pembiayaan konservasi yang lebih inovatif. Ia menilai upaya perlindungan kawasan tidak bisa terus mengandalkan pola pendanaan konvensional.
Menurut Menhut, kolaborasi pendanaan dapat diperluas melalui pemanfaatan nilai ekonomi karbon serta investasi hijau untuk mendukung keberlanjutan kawasan konservasi.
Pada sektor perlindungan satwa liar, sejumlah program konservasi menunjukkan perkembangan positif. Perlindungan terhadap spesies kunci seperti badak jawa, harimau sumatera, orangutan, dan gajah asia terus dilakukan dan ditandai dengan kelahiran individu baru di sejumlah habitat.
Baca Juga: Menhut Sebut Operasi Modifikasi Cuaca Paling Efektif Padamkan Karhutla Kalteng
Dalam menangani konflik antara manusia dan satwa liar, Menhut juga mendorong penerapan pendekatan yang lebih inovatif dengan melibatkan berbagai pihak.
Raja Juli mengatakan pelaksanaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 pada bulan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat adat, dunia usaha, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut, kata dia, diperlukan untuk menjaga kekayaan alam Indonesia sekaligus mendukung upaya penurunan emisi karbon melalui program Indonesia's FOLU Net Sink 2030.
(Sumber: Antara)
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni saat keluar dari Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026. (Antara)