Menkes Budi Gunadi Sadikin Resmi Masuk Bursa Calon Direktur Jenderal WHO

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Agu 2026, 09:00
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Selasa (2/6/2026). ANTARA/Mecca Yumna Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Selasa (2/6/2026). ANTARA/Mecca Yumna (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, resmi masuk ke dalam bursa calon Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Nama Budi kini tercantum dalam laman resmi WHO sebagai salah satu dari empat kandidat prospektif yang akan memperebutkan posisi tertinggi di lembaga kesehatan global tersebut.

Berdasarkan rilis resmi WHO, Indonesia telah mengajukan nama Budi Gunadi Sadikin untuk bersaing dengan tiga kandidat kuat lainnya. Mereka adalah Hanan Mohammed Al-Kuwari yang diusulkan oleh Qatar, Hanan Balkhy dari Arab Saudi, serta Hans Henri P. Kluge yang mendapat dukungan dari Belgia.

WHO menyatakan bahwa status pencalonan saat ini masih bersifat kandidat prospektif. Daftar ini akan terus diperbarui hingga WHO secara resmi mempublikasikan seluruh profil kandidat beserta proposal visi-misi mereka.

Pencalonan Budi menarik perhatian dunia internasional karena profilnya yang berbeda dari kebanyakan pemimpin WHO sebelumnya. Budi bukan seorang dokter atau praktisi kesehatan masyarakat. Ia memiliki latar belakang pendidikan di bidang fisika nuklir dan membangun karier panjang di sektor perbankan serta korporasi.

Sebelum menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada Desember 2020 di tengah puncak pandemi Covid-19, Budi dikenal sebagai bankir senior yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri (2013). Ia juga pernah memimpin induk holding pertambangan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dan menjabat sebagai Wakil Menteri BUMN.

Meski latar belakang non-medis dipandang sebagai tantangan, sejumlah pengamat menilai pengalaman Budi di sektor manajemen keuangan dan korporasi merupakan modal krusial. Saat ini, WHO tengah menghadapi tekanan finansial yang berat, sehingga dibutuhkan sosok pemimpin yang cakap dalam tata kelola keuangan dan penggalangan dana.

Di panggung internasional, Budi dinilai memiliki portofolio yang solid. Ia merupakan salah satu aktor kunci di balik pembentukan Pandemic Fund mekanisme pendanaan global untuk menghadapi pandemi di masa depan yang diluncurkan dalam Presidensi G20 Indonesia di Bali pada 2022.

Komitmen Indonesia terhadap WHO juga dipertegas pada Juli lalu melalui tambahan kontribusi sukarela sebesar US$30 juta (sekitar Rp470 miliar) untuk membantu menambal defisit anggaran organisasi. Langkah ini mendapat apresiasi langsung dari Direktur Jenderal WHO saat ini, Tedros Adhanom Ghebreyesus, meski Tedros tetap bersikap netral terhadap seluruh kandidat.

Pemilihan kali ini terjadi di tengah periode sulit bagi WHO. Mundurnya Amerika Serikat dari organisasi tersebut memicu krisis pendanaan yang berujung pada pengurangan jumlah staf hingga 25 persen dalam setahun terakhir. Selain itu, WHO juga kehilangan beberapa tokoh kunci, termasuk pakar kesehatan Jeremy Farrar.

Proses pemilihan Direktur Jenderal WHO dijadwalkan berlangsung dalam Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly) ke-80 pada Mei 2027 di Jenewa, Swiss. Namun, peta persaingan masih dinamis karena negara anggota memiliki waktu hingga 24 September 2026 untuk mengajukan nama kandidat tambahan.

HIGHLIGHT

x|close