NTVNews.id, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyoroti panjangnya persoalan penataan pedagang di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur.
Menurutnya, aktivitas perdagangan yang berlangsung selama lebih dari lima dekade itu untuk proses penataan tak kunjung selesai. Pramono mengatakan persoalan pedagang di Kramat Jati bukan masalah baru. Penataan kawasan tersebut telah menjadi pekerjaan rumah selama puluhan tahun, bahkan sejak awal 1970-an.
"Pembenahan ini terus terang tidak gampang karena ini sudah berlangsung lebih dari 50 tahun, sejak awal tahun 70-an," ujar Pramono saat meninjau Pasar Kramat Jati, Selasa, 1 September 2026.
Pemkot Jaktim perketat penanganan kawasan Kramat Jati karena aktivitas pedagang (Pemkot Jaktim)
"Tetapi untuk membuat penertiban-penertiban yang ada di Jakarta, salah satu hal yang perlu dilakukan pembenahan adalah di Kramat Jati ini," sambungnya.
Dalam proses penataan kali itu, Pemprov DKI menyiapkan lokasi baru bagi ratusan pedagang yang selama ini beraktivitas di Kramat Jati.
Ia menyebut jumlah pedagang yang terdampak penataan berada di kisaran 614 hingga 640 pedagang. Mereka akan ditempatkan di sejumlah lokasi yang telah disiapkan pemerintah.
Adapun pembagian lokasi tersebut meliputi 331 pedagang ditempatkan di Pasar Kramat Jati Sektor 7, 193 pedagang ikan diarahkan ke Lokasi Binaan (Lokbin) Kramat Jati, 45 pedagang kue ditempatkan di Lokbin Cililitan dan 45 pedagang lainnya akan menempati pasar lain yang dikelola Perumda Pasar Jaya.
Pramono Anung (NTVNews.id/Adiansyah)