Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat (AS) dikabarkan menghadapi kendala dalam merekrut generasi muda untuk bergabung dengan militer di tengah perang Washington dengan Iran di Timur Tengah.
Dilansir dari AFP, Jumat, 4 September 2026, Pentagon bahkan disebut mulai mempertimbangkan skema penghapusan utang bagi mahasiswa yang memiliki beban pinjaman pendidikan maupun utang kartu kredit sebagai insentif agar mereka bersedia menjadi tentara.
Melalui skema tersebut, mahasiswa ditawarkan pembebasan utang oleh pemerintah AS apabila bersedia bergabung dalam misi militer dan menjalani penugasan di wilayah konflik.
Gagasan tersebut disampaikan mantan perwira militer Kanada AJ Jaff melalui kolom opininya di Jerusalem Post berjudul "The war with Iran will not be won through airstrikes, so what's left?". Jaff diketahui rutin menulis mengenai konflik di Timur Tengah untuk media Israel tersebut.
Upaya pemerintah AS membangun narasi patriotisme guna mendorong generasi muda membela kepentingan negara dinilai Jaff tidak lagi efektif. Semakin banyak anak muda yang enggan mendaftar sebagai tentara, terutama karena sikap kritis mereka terhadap perang yang dilakukan Washington.
"Angka perekrutan saat ini berada di bawah jumlah yang dibutuhkan untuk invasi darat ke Iran. Estimasi untuk keberhasilan operasi darat melawan 31 komando provinsi Iran dan Doktrin Pertahanan Mosaik mereka berkisar antara 750 ribu hingga 1,5 juta tentara Amerika," tulis AJ Jaff dalam kolomnya tersebut.
"Saat ini, jumlah personel aktif Angkatan Darat AS hanya sekitar 452 ribu. Jelas, hitung-hitungannya tidak masuk akal." sambungnya.
Baca Juga: Menteri Angkatan Darat Amerika Serikat Mundur
Menurut Jaff, AS masih memiliki alternatif untuk mengatasi persoalan tersebut dengan melihat kembali strategi yang pernah digunakan dalam sejarah. Ia tidak mengusulkan penerapan wajib militer seperti pada era perang dunia, melainkan menawarkan perekrutan dengan "program penghapusan utang."
"Rata-rata warga Amerika berusia 18 hingga 34 tahun menanggung utang non-hipotek, yang mencakup pinjaman mahasiswa, saldo kartu kredit, kredit kendaraan, dan pinjaman pribadi, dengan nilai lebih dari 40 ribu dolar AS, bahkan beberapa estimasi menyebutkan angka hingga 100 ribu dolar AS," demikian beber Jaff.
"Inilah kelompok demografis yang dibutuhkan Pentagon. Sebuah program perekrutan dengan insentif penghapusan utang yang dikelola pemerintah federal-yang melunasi sepenuhnya pinjaman mahasiswa, saldo kartu kredit, dan pinjaman lainnya setelah masa tugas 24 atau 36 bulan, serta memperluas cakupan *GI Bill, akan memicu minat sukarelawan dalam jumlah besar."
Jaff menilai pendekatan tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi pemerintah AS. Menurutnya, berbagai insentif pernah digunakan ketika negara membutuhkan tambahan personel militer dalam jumlah besar.
"Perang Dunia II menawarkan The GI Bill. Perang Vietnam menawarkan penundaan wajib militer bagi mahasiswa. Perang pasca-9/11 menawarkan bonus perekrutan dan jalur kewarganegaraan," papar Jaff.
"Perang melawan Iran nantinya perlu menawarkan keringanan utang. Kondisi ekonomi warga Amerika berusia 20-an dan 30-an yang terlilit utang menjadikan skema ini sebagai mekanisme konversi paling efisien yang tersedia bagi Pentagon dan pemerintahan Trump," ia menambahkan.
Jaff mengakui gagasan tersebut dapat menimbulkan persoalan dari sisi moral. Namun, ia berpandangan bahwa pemerintah dapat membentuk kekuatan militer yang dibutuhkan dengan memberikan insentif yang dianggap menarik bagi kelompok masyarakat yang menjadi sasaran perekrutan.
Ilustrasi tentara Amerika Serikat. (Antara)