Penampakan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Erupsi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Sep 2026, 07:44
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Adiantoro
Editor
Bagikan
Gunung Anak Krakatau Erupsi Gunung Anak Krakatau Erupsi (Instagram @spacex_spacenews)

Ntvnews.id

, Jakarta - Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Minggu malam. Letusan tersebut menghasilkan semburan abu vulkanik yang membumbung hingga lebih dari 15 kilometer ke atmosfer dan menciptakan pemandangan spektakuler yang dapat diamati dari luar angkasa.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau itu menjadi perhatian setelah sejumlah satelit pengamatan Bumi menangkap kepulan abu dan gas vulkanik yang menyebar di atmosfer.

"Sebuah gelombang letusan yang kuat terjadi di Anak Krakatau semalam, mengirimkan abu lebih dari 15 km ke atmosfera," demikian keterangan yang diunggah akun Instagram @spacex_spacenews, dikutip Minggu, 6 September 2026.

Pada pagi harinya, citra dari beberapa satelit pengamatan Bumi memperlihatkan kepulan abu vulkanik dengan jelas. Dari ketinggian, material erupsi tampak membentuk gumpalan tebal yang membentang di atas kawasan Gunung Anak Krakatau.

Citra satelit memberikan gambaran mengenai sebaran material vulkanik yang dihasilkan Gunung Anak Krakatau. Abu dan gas yang dilepaskan saat erupsi terlihat cukup padat sehingga dapat diamati dengan jelas dari luar angkasa.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh SpaceX & Space News (@spacex_spacenews)

Gunung Anak Krakatau Catat Erupsi Tertinggi Sepanjang 2026

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mencatatkan aktivitas erupsi menerus dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang tahun 2026. Rangkaian erupsi yang sebelumnya sempat berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026 malam hingga Sabtu, 4 September 2026.

Pengamat Gunung Api Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman mengungkapkan di Serang pada Sabtu bahwa erupsi tersebut terindikasi sebagai fenomena pancaran lava (lava fountain). Aktivitas ini mulai terdeteksi pada pukul 23.07 WIB dan terus berlanjut.

"Rangkaian letusan pada 4 hingga 5 September ini menjadi yang tertinggi secara intensitas sejak gunung tersebut berstatus siaga. Sejak tadi malam terjadi satu kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo maksimum 70 milimeter. Durasi yang tercatat mencapai 21.600 detik," kata Dika.

Secara akumulatif, Gunung Anak Krakatau telah mengalami lebih dari 240 kali letusan sejak penetapan Status Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026. Dika menegaskan bahwa pemicu letusan murni berasal dari kantong magma gunung itu sendiri, sehingga tidak memicu aktivitas vulkanik pada gunung api lainnya di Indonesia.

Tingginya intensitas letusan turut memicu gelombang suara gemuruh dan dentuman keras yang terdengar sampai ke kawasan pesisir Banten hingga Lampung.

"Suara dentuman yang terdengar itu merupakan suara dari hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang merambat ke udara, bukan dentuman akibat gempa bumi atau gerakan tanah," ujarnya.

Upaya pemantauan visual secara langsung saat ini mengalami kendala teknis. Pantauan terakhir pada pukul 01.00 WIB sempat merekam semburan lava, sebelum sejumlah instrumen di sekitar kawah diduga rusak terpapar material erupsi.

"Secara fisik sampai siang ini belum bisa kita pantau karena ada beberapa alat pemantauan, termasuk CCTV, yang kemungkinan mengalami kerusakan akibat erupsi," ungkapnya.

Kendati intensitas erupsi tergolong tinggi, Dika memastikan status Gunung Anak Krakatau tetap bertahan pada Level III atau Siaga tanpa ada peningkatan tingkat ancaman. Ia mengimbau warga di sepanjang garis pantai agar tidak panik secara berlebihan, sebab potensi munculnya gelombang pasang atau tsunami sangat kecil mengingat dimensi tubuh gunung yang masih relatif kecil saat ini.

x|close