Ntvnews.id, Jakarta - Infografik ini memaparkan riwayat aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda sejak pascaletusan dahsyat Krakatau pada 1883. Setelah letusan tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh gunung purba, Gunung Anak Krakatau mulai muncul ke permukaan laut pada 1927 melalui erupsi bawah laut. Pada 1929, gunung ini resmi terlihat di permukaan dari kedalaman 180 meter pada koordinat 6^\circ06' Lintang Selatan dan 105^\circ25' Bujur Timur.
Aktivitas vulkaniknya terus berlangsung secara dinamis dari dekade ke dekade. Pada kurun waktu 1959–1963, erupsi terjadi hampir terus-menerus, diikuti periode 1972–1981 saat lelehan lava beberapa kali mencapai laut. Fase erupsi harian yang melontarkan abu dan material vulkanik tercatat pada 1992–1999, lalu berlanjut dengan peningkatan kegempaan pada 2000–2001. Salah satu peristiwa paling signifikan terjadi pada 22 Desember 2018, ketika aktivitas vulkanik yang disertai longsoran tubuh gunung memicu tragedi tsunami di Selat Sunda.
Memasuki periode terbaru, aktivitas gunung sempat berada pada skala rendah selama 2019–2025 sebelum kembali meningkat tajam pada 2026. Pada Juli 2026, statusnya dinaikkan ke Level III (Siaga). Puncaknya pada September 2026, sebaran abu vulkanik tercatat mencapai ketinggian 6,09 km (20.000 kaki) yang berdampak pada wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Bahkan, sebaran abu meluas hingga radius 15 km (50.000 kaki) yang memengaruhi kawasan Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia
Berikut Ingrafiknya:
Infografik: Rekam Jejak dan Perkembangan Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau (Antara)
(Sumber: Antara)
Infografik: Rekam Jejak dan Perkembangan Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau (Antara)