Ntvnews.id, Johannesburg - Kelompok bersenjata menggunakan senapan serbu menyerang sebuah bar di wilayah barat Johannesburg, Afrika Selatan (Afsel). Akibat serangan tersebut, 17 orang meninggal dunia dan 15 lainnya mengalami luka-luka.
Dilansir dari AFP, Senin,28 September 2026, penembakan ini menjadi kasus penembakan massal terbaru yang terjadi di Afrika Selatan, negara yang masih menghadapi persoalan kriminalitas tinggi. Kepolisian menyebut delapan orang terlibat dalam aksi tersebut.
"Mereka diduga menggeledah sejumlah pengunjung dan mengambil ponsel mereka sebelum melarikan diri dari lokasi kejadian menggunakan dua kendaraan yang tidak teridentifikasi," ujar polisi seraya menambahkan insiden itu terjadi sekitar pukul 19.30 GMT pada Sabtu, 26 September 2026.
Dari total korban tewas, sebanyak 13 orang merupakan laki-laki dan empat lainnya perempuan. Kepolisian menyatakan hingga kini motif penembakan belum diketahui. Para pelaku juga disebut membakar dua kendaraan sebelum meninggalkan lokasi.
"Polisi telah mengerahkan tim detektif dan unit khusus lainnya untuk melacak serta menangkap para pelaku," kata mereka.
Baca Juga: 3 Pegawai Pemkab Jayawijaya Jadi Korban Penembakan di Muliama
Penembakan massal lainnya terjadi di lokasi berbeda, yakni sebuah tempat hiburan yang berada di kawasan permukiman di luar Cape Town pada Minggu dini hari. Dalam insiden tersebut, 10 orang tewas dan 11 lainnya terluka akibat ditembak kelompok bersenjata.
Afrika Selatan diketahui memiliki peredaran senjata api, baik yang legal maupun ilegal, dalam jumlah besar. Penembakan kerap terjadi dan salah satu pemicunya adalah konflik antargeng serta persaingan dalam aktivitas bisnis informal.
Dengan jumlah penduduk sekitar 62 juta jiwa, Afrika Selatan termasuk negara dengan tingkat pembunuhan yang tinggi di dunia. Sekitar 60 orang dilaporkan meninggal setiap harinya akibat pembunuhan.
Pada Maret lalu, aparat militer dikerahkan ke sejumlah kawasan rawan kekerasan di Johannesburg. Pengerahan tersebut dilakukan untuk membantu kepolisian menangani tingkat kejahatan yang tinggi, yang oleh Presiden Cyril Ramaphosa disebut sebagai salah satu ancaman terbesar yang dihadapi Afrika Selatan.
Ilustrasi Pistol (FreePik)