2 Negara Eropa Jadi Korban Baru Regulasi Gila Donald Trump, Siapa Saja?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Apr 2025, 18:20
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Email dari pemerintahan Trump menyebutkan bahwa pekerja federal yang menerima pembelian tersebut akan menerima gaji hingga bulan September Email dari pemerintahan Trump menyebutkan bahwa pekerja federal yang menerima pembelian tersebut akan menerima gaji hingga bulan September

Ntvnews.id, London - Pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump dikabarkan akan memberlakukan tarif terhadap dua negara Eropa. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya presiden dari Partai Republik tersebut untuk mengatasi defisit dalam neraca perdagangan bilateralnya.

Dilansir dari BBC, Rabu, 2 April 2025, dua negara yang akan terdampak adalah Irlandia dan Inggris. Khusus untuk Inggris, pihak Downing Street menyatakan bahwa mereka memperkirakan akan termasuk dalam kebijakan tarif baru yang akan diumumkan Trump pada Rabu mendatang. Perkiraan ini muncul setelah negosiasi untuk mengecualikan barang asal Inggris dari tarif tersebut tidak mencapai kesepakatan.

"Terkait tarif, Perdana Menteri telah menegaskan bahwa ia akan selalu bertindak demi kepentingan nasional dan kami telah mempersiapkan segala kemungkinan menjelang pengumuman dari Presiden Trump, yang kami perkirakan akan berdampak pada Inggris dan negara-negara lain," kata seorang juru bicara Downing Street.

"Kami tengah melakukan diskusi konstruktif mengenai kesepakatan kemakmuran ekonomi AS-Inggris, tetapi kami hanya akan melakukan kesepakatan yang mendatangkan kemakmuran ekonomi bagi rakyat Inggris dan kami hanya akan bertindak demi kepentingan nasional."

Saat ditanya apakah kesepakatan untuk menghindari tarif bisa tercapai sebelum Rabu, juru bicara tersebut menjelaskan bahwa pembicaraan antara Inggris dan AS "kemungkinan akan berlanjut setelah hari Rabu."

Baca Juga: Trump Lempar Ancaman ke Universitas Harvard, Ada Apa?

"Inggris akan mengambil pendekatan yang tenang dan pragmatis dalam menanggapi tarif apa pun, dengan alasan perang dagang dengan AS tidak menguntungkan siapa pun. Namun, kami tidak mengesampingkan apa pun sebagai tanggapan."

Pernyataan ini muncul setelah Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengadakan pembicaraan melalui telepon dengan Trump pada hari Minggu. Pemerintah Inggris menekankan bahwa hubungan perdagangan antara kedua negara lebih seimbang dibandingkan dengan mitra dagang AS lainnya.

Kantor Independen untuk Tanggung Jawab Anggaran (OBR) Inggris memperingatkan bahwa eskalasi perang dagang dapat menyebabkan kerugian ekonomi besar. Dampak yang ditimbulkan bahkan berpotensi mengurangi ruang fiskal Menteri Keuangan Rachel Reeves, yang berusaha menjaga keseimbangan antara pengeluaran dan pinjaman sesuai kebijakan fiskal yang telah ditetapkan.

Laporan ekonomi terbaru dari OBR, yang dirilis pekan lalu, memperkirakan bahwa dalam skenario terburuk, di mana Inggris dan negara lain membalas tarif Trump, Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris bisa turun 0,6% tahun ini dan 1% pada tahun berikutnya.

Dalam skenario lain di mana Inggris tidak membalas tarif tersebut, penurunan pertumbuhan ekonomi diperkirakan lebih kecil, dengan PDB berkurang 0,4% tahun ini dan 0,6% pada tahun depan.

Irlandia Juga Terkena Dampak

Irlandia diprediksi akan menjadi salah satu negara yang paling terdampak ketika Presiden Trump mengumumkan tarif baru akhir pekan ini. Posisi Irlandia sebagai anggota Uni Eropa (UE) menjadikannya rentan terhadap kebijakan tarif tinggi dari Trump.

Diperkirakan, barang-barang asal UE akan dikenakan tarif sekitar 20% saat memasuki AS. Dari seluruh negara Uni Eropa, Irlandia memiliki ketergantungan ekspor terbesar ke AS.

Pada tahun 2024, nilai ekspor barang dari Irlandia ke AS mencapai 73 miliar euro (Rp 1.307 triliun), mencakup hampir sepertiga dari total ekspor negara tersebut. Industri farmasi menjadi sektor ekspor terbesar, dengan perusahaan-perusahaan seperti Pfizer dan Eli Lilly menjadikan Irlandia sebagai pusat manufaktur utama.

Baca Juga: Apa Peran Departemen Pendidikan yang Dibubarkan Donald Trump?

Trump berulang kali menyatakan ketidaksenangannya terhadap dominasi manufaktur farmasi AS di Irlandia. Bulan lalu, ia mengatakan: "Tiba-tiba Irlandia memiliki perusahaan-perusahaan farmasi kita, pulau yang indah dengan lima juta penduduk ini telah menguasai seluruh industri farmasi AS."

Dan O'Brien, kepala ekonom di Institut Urusan Internasional dan Eropa, memperkirakan dampak ekonomi Irlandia akibat tarif ini bisa setara dengan krisis keuangan tahun 2008.

"Republik ini adalah eksportir farmasi terbesar ke AS. Dengan jumlah penduduk lebih dari lima juta jiwa, negara ini menjadi eksportir yang lebih besar daripada negara-negara besar seperti Jerman dan Swiss," katanya.

x|close