Trump Ledek Macron dan Ancam Prancis Kena Tarif 25 Persen

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Jan 2026, 12:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/aa.) Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/aa.) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menirukan aksen khas Prancis milik Presiden Emmanuel Macron ketika berbicara dalam sebuah diskusi meja bundar di Gedung Putih.

Dilansir dari Daily Mail, Sabtu, 17 Januari 2026, Trump mengisahkan kembali percakapan teleponnya dengan Macron yang menyinggung upaya pemerintah AS untuk menyamakan harga obat yang dibayar warga Amerika dengan harga di negara lain.

Saat menirukan cara bicara Macron menggunakan aksen Prancis, Trump menyebut Presiden Prancis itu menjawab sambungan teleponnya dengan mengatakan, “Iya, Donald, Donald. Terima kasih sudah menelepon.”

Trump kemudian mengklaim dirinya langsung menyampaikan pesan tegas kepada Macron, “Anda tidak akan menyukai panggilan telepon ini. Anda harus menaikkan harga obat-obatan di negara Anda.”

Menurut Trump, Macron menolak permintaan tersebut.

“Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, saya tidak akan melakukan itu,” ujar Trump sambil menirukan suara Macron.

Baca Juga: Gedung Putih Klaim Iran Hentikan 800 Eksekusi Mati di Tengah Tekanan Trump

Trump, yang pada Mei lalu menandatangani perintah eksekutif terkait kebijakan harga obat ‘most-favored-nation’ di Amerika Serikat, menyebut dirinya memperingatkan Macron bahwa AS akan mengenakan tarif jika Prancis tidak menaikkan harga produk farmasi.

“Saya bilang, ‘Emmanuel, kami membayar 13 kali lebih mahal, 13 kali, bukan 13 persen, 13 kali lebih mahal daripada kalian untuk ini.’ Saya menyebutkan beberapa angka yang gila. Anda tahu angka-angka yang saya maksud,” kata Trump.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. ANTARA/Anadolu/py.  <b>(Antara)</b> Presiden Amerika Serikat Donald Trump. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Ia melanjutkan ancamannya dengan menyebut kemungkinan tarif besar.
“‘Begini, Emmanuel. Jika Anda tidak melakukannya, saya akan mengenakan tarif 25 persen atas semua barang, anggur, sampanye, dan segala hal lain yang masuk ke Amerika Serikat,’” lanjut Trump.

Masih dengan aksen Prancis, Trump mengklaim Macron akhirnya melunak.
“(Macron) berkata, ‘Donald, saya akan senang sekali melakukan ini untuk Anda. Ini akan menjadi suatu kehormatan besar,’” kata Trump. “Dan dari situlah semuanya dimulai. Saya kemudian melakukannya dari satu negara ke negara lainnya.”

Dalam cerita tersebut, Trump juga menyampaikan pandangannya tentang Macron secara pribadi.
“Saya sangat menyukainya. Saya harap dia mendengarkan, karena dia tidak percaya dengan itu, tapi saya sungguh menyukainya. Dia orang yang baik,” ujar Trump.

Trump sebelumnya juga pernah menceritakan kisah serupa dengan menggunakan aksen Prancis saat bertemu anggota Partai Republik DPR AS pada 6 Januari lalu. Sebelum memulai anekdot itu, ia mengatakan, “Saya suka aksen Prancis.”

Dalam versi cerita tersebut, Trump mengklaim Macron berkata, “Donald, kita sepakat. Saya bersedia menaikkan harga obat resep saya sebesar 200 persen atau berapa pun. Apa pun yang Anda mau, Donald, tolong jangan beri tahu masyarakat, saya mohon.”

Baca Juga: Trump Terapkan Tarif Tambahan 25 Persen untuk Impor Cip Komputasi Canggih

Trump kembali menegaskan bahwa dirinya memberi ultimatum kepada Prancis agar menyetujui tuntutan Amerika Serikat atau menghadapi tarif besar sebesar 25 persen atas seluruh produk Prancis, termasuk anggur dan sampanye.

Dua hari setelah pernyataan Trump itu, Macron menuding Amerika Serikat telah “melepaskan diri dari aturan internasional” dan “secara bertahap menjauh” dari sejumlah sekutunya.

“Amerika Serikat adalah kekuatan besar, tetapi secara bertahap menjauh dari sebagian sekutunya dan melepaskan diri dari aturan internasional yang hingga baru-baru ini masih mereka dorong,” kata Macron kepada para duta besar di Istana Elysée Palace.

Ia menambahkan, “Lembaga-lembaga multilateral semakin tidak berfungsi secara efektif.”
“Kita hidup di dunia bersama kekuatan-kekuatan besar dengan godaan nyata untuk memecah-belah dunia," ungkapnya.

TERKINI

Load More
x|close