Ntvnews.id, New York - Meskipun pasokan air utama dari Israel ke Jalur Gaza baru saja kembali dibuka, Kota Gaza masih menghadapi krisis kekurangan air yang serius, menurut badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin, 9 Februari 2026.
Dilansir dari Al Arabiya, Selasa, 10 Februari 2026, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa mitra-mitra mereka di sektor air, kebersihan, dan sanitasi masih menemukan kekurangan air minum serta air bersih untuk kebutuhan domestik, meskipun jalur pasokan Mekorot dari Israel telah diaktifkan kembali.
Saat ini, hanya sekitar 6.000 meter kubik air per hari yang dapat menjangkau masyarakat di kota tersebut, dengan kehilangan volume air yang cukup besar di wilayah-wilayah yang sulit diakses.
Baca Juga: Kasad BebeRkan Soal Pasukan Perdamaian yang Diwacanakan Dikirim ke Gaza
"Untuk mengatasi kekurangan ini, kami bersama para mitra telah meningkatkan produksi air dan menyalurkan pengiriman melalui truk dari sumur-sumur air tanah dan instalasi desalinasi sektor swasta," papar OCHA.
"Sejak akhir bulan lalu, para mitra kami telah mendistribusikan lebih dari 100.000 jeriken air, 700.000 lebih batang sabun, dan lebih dari 25.000 paket kebersihan, 400 lebih jamban untuk rumah tangga, serta 250 paket obat kutu di seluruh Gaza," ujar OCHA.
Warga Palestina berjalan melewati puing-puing bangunan yang hancur setelah kembali ke Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, pada 12 Oktober 2025. Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada hari Jumat. ANTARA/Xinhua/Rizek Ab (Antara)