Ntvnews.id, Taheran - Antrean panjang terlihat di sejumlah SPBU dan banyak warga Iran mulai meninggalkan kota-kota mereka demi mencari tempat yang lebih aman, menurut kesaksian sejumlah saksi. Serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel memicu ketakutan dan kepanikan di berbagai wilayah.
Ledakan mengguncang Teheran pada Sabtu, 28 Februari 2026, pagi, dengan asap tebal membumbung ke udara, mengagetkan warga saat awal pekan kerja dimulai.
Seorang pria yang diwawancarai Reuters dari ibu kota mengatakan ia "bergegas menjemput anak-anaknya" dari sekolah.
"Kami takut, kami ketakutan. Anak-anak saya gemetar, kami tidak punya tempat untuk pergi, kami akan mati di sini," ujar Minou, ibu dua anak berusia 32 tahun dari Tabriz, salah satu kota di utara Iran yang juga dilaporkan mengalami ledakan, sebagaiman dikutip dari Reuters, Minggu, 1 Maret 2026.
“Apa yang akan terjadi pada anak-anak saya?” katanya sambil menangis melalui sambungan telepon.
Baca Juga: Sekjen PBB Kutuk Eskalasi Militer di Timur Tengah, Serukan Hal Ini
Badan keamanan tertinggi Iran memperkirakan serangan akan terus berlanjut di Teheran dan sejumlah kota lain. Karena itu, masyarakat diminta untuk “pergi ke kota-kota lain jika memungkinkan agar Anda tetap aman dari bahaya tindakan agresi kedua rezim ini”.
Pemerintah juga mengumumkan penutupan sekolah dan universitas hingga waktu yang belum ditentukan.
Gelombang serangan ini menjadi ujian terbaru bagi warga Iran, hanya beberapa pekan setelah ribuan orang tewas dalam penindakan kerusuhan nasional, serta delapan bulan setelah perang 12 hari dengan Israel tahun lalu, ketika AS membombardir fasilitas nuklir Iran.
Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi tersebut bertujuan menghilangkan ancaman keamanan terhadap Amerika Serikat dan memberi peluang bagi rakyat Iran untuk menggulingkan pemimpin mereka.
Pentagon menyebut operasi militer itu dengan nama "OPERASI 'EPIC FURY'."
Seorang warga dari Yazd, Iran tengah, mengaku berharap serangan tersebut dapat mengakhiri pemerintahan ulama yang berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
"Biarkan mereka membom," ujarnya.
Namun, Samira Mohebbi dari Rasht menyampaikan pandangan berbeda.
Serangan Iran Israel (Istimewa)
"Saya menentang rezim ini, persetan dengan mereka. Tetapi saya tidak ingin negara saya diserang oleh pasukan asing, saya tidak ingin Iran saya berubah menjadi Irak," katanya, merujuk pada kondisi Irak yang dilanda kekacauan berkepanjangan setelah invasi yang dipimpin AS menggulingkan Saddam Hussein.
Pasukan keamanan dilaporkan menutup sejumlah jalan di Teheran, terutama di area yang menjadi lokasi kantor Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, Presiden Masoud Pezeshkian, serta gedung parlemen.
Serangan ini terjadi setelah perundingan terbaru antara AS dan Iran di Jenewa pada Kamis gagal menghasilkan terobosan terkait program nuklir Teheran, meski mediator Oman mengklaim ada kemajuan.
"Mereka mengatakan pembicaraan nuklir berjalan dengan baik. Mereka menipu kita lagi," ujar seorang warga Teheran.
Negara-negara Barat selama ini mencurigai Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang selalu dibantah Teheran.
Baca Juga: 40 Orang Tewas dalam Serangan Israel di Iran
Sejumlah saksi menyebut warga berbondong-bondong membeli mata uang asing. Di Isfahan, sebagian warga mengaku kesulitan menarik uang tunai dari ATM.
Reza Saadati (45) mengatakan ia akan membawa keluarganya ke Urumieh, dekat perbatasan Turki.
"Jika perbatasan terbuka, kami akan menyeberang dan kemudian terbang ke Istanbul," tuturnya.
Sementara itu, Mohammad Esmaili (63) dari Ilam, sekitar 500 km dari Teheran, menyatakan akan meninggalkan kota bersama keluarganya.
"Tuhan tahu apa yang akan terjadi pada kami. Doakan kami," katanya.
Seorang ibu tiga anak di Teheran juga mengungkapkan kecemasannya:
"Orang-orang terkejut, takut. Apa yang akan terjadi pada kami? Tolong selamatkan kami."
Pendemo Iran mengibarkan bendera Iran dan Palestina dalam aksi anti-Israel di Tehran. (AP News)