Profil Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Tewas dalam Serangan AS-Israel di Teheran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Mar 2026, 11:49
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Rabu (18/6/2025) mengatakanbahwa negaranya akan terus menanggapi serangan Israel dan tidak akan pernah berunding dengan Israel. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Rabu (18/6/2025) mengatakanbahwa negaranya akan terus menanggapi serangan Israel dan tidak akan pernah berunding dengan Israel. (ANTARA)

Ntvnews.id, Taheran - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, diumumkan meninggal dunia akibat serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Teheran. Selama ini, Khamenei dikenal sebagai figur tertinggi dalam struktur kepemimpinan Republik Islam Iran.

Dilansir dari Al Jazeera dan situs resmi Khamenei.ir, Minggu, 1 Maret 2026, ia lahir di kota suci Mashhad pada 19 April 1939. Ia merupakan putra kedua Sayyed Javad Khamenei, seorang ulama sederhana yang membesarkan keluarganya dengan kehidupan yang bersahaja.

Masa kecil Khamenei dihabiskan dengan menempuh pendidikan di maktab, sekolah dasar tradisional untuk mempelajari alfabet dan Al-Qur'an. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di sekolah Islam sebelum akhirnya memperdalam studi di seminari teologi di Mashhad.

Baca Juga: KBRI Abu Dhabi Imbau WNI di UEA Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Konflik

Di sekolah agama Soleiman Khan dan Nawwab, ia mempelajari logika, filsafat, serta yurisprudensi Islam di bawah bimbingan ayahnya dan sejumlah ulama terkemuka.

Keterlibatan dalam Revolusi Iran

Sejak remaja, Khamenei telah terpapar pidato-pidato revolusioner Nawwab Safavi yang menentang kebijakan Shah yang dianggap anti-Islam. Pada 1962, ia bergabung dengan gerakan yang dipimpin Ruhollah Khomeini dalam menentang rezim Shah yang dinilai pro-Barat.

Selama 16 tahun, ia aktif dalam perjuangan revolusi hingga akhirnya pemerintahan Shah tumbang. Karena keberaniannya, Khamenei dipercaya membawa pesan rahasia dari Ayatollah Milani dan ulama lainnya terkait strategi melawan rezim tersebut.

Dalam perjalanan perjuangannya, ia beberapa kali ditangkap dan diasingkan. Ia pernah mendekam di "Penjara Gabungan Polisi-SAVAK" di Teheran selama berbulan-bulan, serta dilarang menyampaikan ceramah setelah dibebaskan. Ia juga menjalani pengasingan selama tiga tahun akibat aktivitas politiknya yang terdeteksi SAVAK. Meski demikian, ia tetap melanjutkan aktivitas politik dan keagamaan serta terlibat dalam demonstrasi besar di berbagai wilayah Iran.

Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei <b>(Dok.Antara)</b> Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (Dok.Antara)

Pada 1989, Khamenei mengambil alih kepemimpinan Republik Islam setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai presiden Iran saat perang panjang melawan Irak pada 1980-an.

Perang tersebut, ditambah dukungan negara-negara Barat terhadap Saddam Hussein, memperkuat sikap curiga Khamenei terhadap Barat, terutama terhadap Amerika Serikat.

Pengumuman Kematian Khamenei

Presiden AS Donald Trump mengumumkan kematian Khamenei akibat serangan di Teheran.

"Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati," kata Trump di jaringan media Social Truth miliknya, dilansir AFP, Minggu, 1 Maret 2026.

Serangan udara AS dan Israel pada Sabtu, 28 Feburari 2026 dilaporkan menghantam kompleks kediaman Khamenei di Teheran dengan puluhan bom. Media Iran juga memberitakan bahwa sejumlah anggota keluarganya, termasuk putri dan cucunya, turut menjadi korban.

Baca Juga: Media Iran Sebut Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Dunia

Pemerintah Iran kemudian mengeluarkan pernyataan resmi yang mengonfirmasi kabar tersebut.

"Pemimpin Tertinggi Iran telah mencapai syahid," demikian dilaporkan oleh stasiun penyiaran negara Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB).

Selain itu, kantor berita Tasnim dan Fars juga memastikan kematian Khamenei akibat serangan tersebut. Pemerintah Iran, melalui laporan Fars News Agency, menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta tujuh hari libur nasional menyusul wafatnya pemimpin tertinggi mereka.

x|close