Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran. Ia mengingatkan Teheran agar tidak melancarkan serangan balasan atas aksi militer AS dan Israel.
"Iran baru saja menyatakan bahwa mereka akan menyerang dengan sangat keras hari ini, lebih keras dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya. MEREKA LEBIH BAIK TIDAK MELAKUKAN ITU, KARENA JIKA MEREKA MELAKUKANNYA, KAMI AKAN MENYERANG MEREKA DENGAN KEKUATAN YANG BELUM PERNAH TERLIHAT SEBELUMNYA!" tulis Trump di akun Truth Social miliknya seperti dilansir dari BBC, Senin, 2 Maret 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Korps Garda Revolusi Islam mengancam akan menyerang pangkalan AS dan Israel sebagai respons atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Iran bahkan menyebut AS sebagai teroris.
"Operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan dimulai menuju wilayah pendudukan dan pangkalan teroris Amerika dalam beberapa saat lagi," katanya beberapa jam yang lalu.
Baca Juga: Trump Akui Bakal Ada Potensi Korban Warga AS Usai Serangan Besar ke Iran
Sebagai informasi, Iran telah meluncurkan serangan ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Arab. Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan targetnya meliputi 27 pangkalan AS, termasuk pangkalan udara Tel Nof Israel, markas komando militer Israel di HaKirya, Tel Aviv, serta kompleks industri pertahanan besar di kota tersebut.
Kantor berita AFP melaporkan ledakan keras terdengar pada Minggu pagi di sekitar bandara Erbil, lokasi pangkalan pasukan koalisi pimpinan AS di wilayah otonom Kurdistan Irak. Asap hitam tebal terlihat membumbung dari area bandara.
Peluru kendali (rudal) Iran meluncur menuju sasaran target. ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)
Militer Israel menyatakan tengah merespons serangan rudal Iran. Sirene peringatan serangan udara diaktifkan di wilayah Israel tengah dan sebagian Tepi Barat.
Ledakan juga dilaporkan terdengar di Doha, Qatar, dan Manama, Bahrain. Sirene peringatan serangan udara turut berbunyi di Kuwait, sementara Yordania mengklaim telah mencegat drone Iran. Negara-negara tersebut selama ini menjadi lokasi penempatan pasukan serta perlengkapan militer AS di kawasan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Antara)