Bakti Perpusnas Kawal Semangat Literasi di Sekolah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Mar 2026, 09:56
thumbnail-author
Beno Junianto
Penulis & Editor
Bagikan
Bakti Perpusnas Kawal Semangat Literasi di Sekolah Bakti Perpusnas Kawal Semangat Literasi di Sekolah (dok perpusnas)

Ntvnews.id, Jakarta - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) melalui Program Bakti Perpusnas menggelar kegiatan penguatan literasi di SDN Palmerah 23, Jakarta Barat, Kamis (26/2/2026). Kegiatan ini diikuti lebih dari 350 siswa dan guru melalui sesi membaca nyaring serta pelatihan teknik mengajar dengan membaca nyaring bagi para guru.

Tanpa proses birokrasi yang panjang, tim yang terdiri dari Faizuddin Ahmad (Pustakawan Ahli Muda) dan Dyah Rachmawati Sugiyanto (Pranata Humas Ahli Madya) diperkenankan melaksanakan Bakti Perpusnas di sekolah itu. Antusias siswa terasa, meskipun cuaca cukup terik dan sebagian besar dari mereka sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Materi utama yang disampaikan Tim Perpusnas adalah mengenai membaca nyaring. Selain membawakan cerita berjudul “Aku Suka Caramu”, Faiz juga memberikan pembekalan kepada guru-guru melalui mini workshop “Teknik Membaca Nyaring”. Sedangkan Dyah membawakan cerita berjudul “Si Kancil dan Rahasia Ramadan”. Tujuan penyampaian topik materi membaca Nyaring adalah agar para guru dapat membiasakan membaca nyaring di kelas kepada siswa dengan menghubungkan pembelajaran di kelas dengan buku yang dibacakan.

Bakti Perpusnas Kawal Semangat Literasi di Sekolah <b>(dok PERPUSNAS)</b> Bakti Perpusnas Kawal Semangat Literasi di Sekolah (dok PERPUSNAS)

Dalam wawancara terpisah, Faiz mengatakan bahwa anak-anak yang berliterat adalah mereka yang mampu memaknai, memahami informasi yang disampaikan, dan kemudian mereka dapat mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari.

Penugasan Bakti Perpusnas ke sekolah, Taman Baca Masyarakat (TBM), dan Komunitas, menurut Faiz,  sangat bermanfaat. Menurut Faiz, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkenalkan berbagai program Perpusnas yang dapat disinergikan untuk membangun budaya literasi di masyarakat.

Sriyani, Kepala Sekolah Dasar Negeri Palmerah 23, mengatakan bahwa Program Bakti Perpusnas menumbuhkan minat baca anak, minat untuk mengetahui lebih dalam tentang buku. “Anak-anak tidak sekadar tahu mengenai cerita saja. Ternyata juga, guru-guru membutuhkan teknik mengajarkan membaca nyaring,” terangnya. Bakti Perpusnas menurutnya, sangat bermanfaat terutama bagi kami yang tidak tahu harus ke mana dan bagaimana cara jika ingin berkonsultasi tentang optimalisasi perpustakaan sekolah.

 

Fasilitas di sekolah tersebut menurutnya sudah cukup menunjang kegiatan literasi dan pembelajaran. Perpustakaannya luas, koleksi buku juga cukup lengkap, dan guru-guru mendukung siswa-siswi melakukan kegiatan literasi. Namun baginya, kegiatan literasi di sekolah itu belum terlalu kuat. Ia pun memprogramkan kegiatan literasi berjenjang yang lebih masif di setiap Kamis.

 

Kamis pertama, literasi membaca. Anak-anak membawa buku tulis dan membaca buku bacaan di halaman sekolah. “Setelah membaca 10 menit, mereka diminta satu perwakilan dari setiap kelas untuk ke depan, menceritakan tentang isi buku yang dibacanya mulai dari judul, penulis, hingga pesan moralnya,” urainya.

 

Sriyani berharap dari pembiasaan menulis, siswa-siswi dapat mengenal dan memperkaya kosa kata dan mengasah kemampuan literasi. Bahkan, ia telah membuktikan pendekatan literasi yang dilakukannya selama tiga tahun mencapai keberhasilan. Ia sukses mencetak nilai Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) siswa-siswinya menjadi paling tinggi dibandingkan dua kelas lainnya.

Kamis kedua, ia melanjutkan, jenis literasi yang berlangsung adalah numerasi. Guru membacakan soal cerita dan siswa-siswi menjawabnya. Menurut Sriyani, nilai numerasi dalam ANBK banyak yang jatuh karena literasi anak-anak itu masih rendah. “Jika literasi di suatu sekolah rendah, otomatis numerasinya juga jelek,” ujarnya.

Kamis ketiga, sambungnya, adalah unjuk bakat dan Kamis keempat diisi dengan English Day. “Kegiatan literasi selalu diadakan di lapangan sekolah. Kecuali saat kondisi hujan, kegiatan tetap berlangsung di tiap kelas,” jelasnya.

Sebagai hasil diskusi awal, Sriyani mengharapkan agar kegiatan Bakti Perpusnas dapat dilakukan secara rutin. “Kalau bisa jangan hanya sekali setahun, tapi rutin dan berkelanjutan, diprogramkan, dan terencana,” ucapnya. Ia berharap banyak hal yang bisa ditindaklanjuti di antaranya, otomasi dan digitalisasi perpustakaan, bimtek guru, kunjungan siswa ke Perpusnas, lomba-lomba literasi, revitalisasi dan optimalisasi fungsi perpustakaan dan papan interaksi digital, hingga bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain.

x|close