Ntvnews.id, Beirut - Militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi terhadap 18 desa dan kota di Lebanon dengan alasan wilayah tersebut diduga dimanfaatkan oleh Hizbullah untuk kepentingan militer. Warga di area yang disebutkan diminta segera meninggalkan lokasi di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat.
Langkah tersebut diambil setelah Israel menggempur pinggiran ibu kota Beirut serta sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Serangan itu terjadi menyusul aksi Hizbullah, kelompok Lebanon yang bersekutu dengan Iran, yang menyerang Israel pada malam sebelumnya sebagai balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dilansir dari Al Jazeera, Senin, 2 Maret 2026, militer Israel juga mengklaim telah menewaskan Hussein Makled, yang disebut sebagai kepala markas intelijen Hizbullah, dalam serangan semalam di Beirut. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak Hizbullah terkait klaim tersebut.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 31 orang tewas akibat rangkaian serangan Israel di negara itu. Puluhan lainnya dilaporkan mengalami luka-luka sejak kembali memanasnya permusuhan antara kedua pihak.
Di tengah situasi tersebut, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengumumkan pelarangan aktivitas militer Hizbullah. Pemerintah Lebanon menyatakan bahwa kegiatan militer kelompok itu merupakan tindakan ilegal dan menuntut agar Hizbullah menyerahkan persenjataannya.
Salam menegaskan penolakan penuh terhadap segala aksi militer yang diluncurkan dari wilayah Lebanon di luar kerangka institusi resmi negara.
“Kami melarang aktivitas militer Hizbullah dan membatasi perannya hanya di ranah politik, serta menuntut agar institusi militer melaksanakan hal ini,” ujar Salam.
Ia juga menegaskan kembali komitmen pemerintah Lebanon terhadap gencatan senjata yang telah dicapai dengan Israel pada 2024 serta kesiapan untuk melanjutkan perundingan.
Arsip - Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu. (Xinhua) (Antara)