Ntvnews.id, Beirut - Sedikitnya 31 orang dilaporkan meninggal dunia di Lebanon akibat gempuran udara Israel. Angka korban tersebut dikonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan Lebanon.
Serangan Israel menyasar area sekitar ibu kota Beirut serta wilayah selatan negara itu sebagai respons atas serangan roket yang dilancarkan Hizbullah pada Senin pagi, 2 Maret 2026 waktu setempat.
“Militer Israel membombardir kota-kota di Lebanon selatan dengan drone dan serangan udara,” demikian laporan warga dan media setempat yang dikutip dari The New York Times, Selasa, 3 Maret 2026.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan kemacetan panjang ketika warga sipil mengungsi ke arah utara menuju Beirut maupun kawasan pegunungan. Otoritas manajemen bencana Lebanon menyatakan lebih dari 40 sekolah telah difungsikan sebagai lokasi penampungan darurat. Hingga kini, lebih dari 3.000 orang tercatat sebagai pengungsi dan jumlah tersebut terus meningkat.
Baca Juga: Israel Buka Peluang Invasi Darat ke Lebanon, 100 Ribu Pasukan Disiagakan
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam peluncuran roket dari wilayah negaranya. Dalam unggahan di platform X, ia menyebut tindakan itu merusak upaya pemerintah untuk "menjauhkan Lebanon dari konfrontasi militer berbahaya yang terjadi di wilayah tersebut."
“Menggunakan Lebanon sebagai landasan perang yang tidak ada hubungannya dengan kita akan kembali membahayakan tanah air kita,” tulisnya. Ia menambahkan bahwa negaranya “masih berupaya menyembuhkan luka” akibat puncak eskalasi sebelumnya antara Hizbullah dan Israel pada 2024.
Asap mengepul setelah serangan Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, Senin 2 Maret 2026. (Reuters)
Kepala staf militer Israel, Eyal Zamir, memperingatkan bahwa masyarakat Israel harus “bersiap untuk pertempuran yang berkepanjangan” setelah operasi militer terhadap Hizbullah dilakukan semalam. Serangan besar-besaran Israel di Lebanon terjadi menyusul tembakan roket dari milisi yang didukung Iran ke wilayah Israel.
Operasi militer Israel terhadap Hizbullah dimulai pada Senin pagi, mengakhiri gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung hampir satu tahun dan meningkatkan risiko ketidakstabilan kawasan, seiring Amerika Serikat dan Israel memperluas serangan mereka terhadap Iran.
Baca Juga: Lebanon–Israel Gelar Pembicaraan Langsung Pertama dalam 40 Tahun
Hizbullah menyatakan bertanggung jawab atas serangan roket tersebut dan menegaskan bahwa tindakan itu merupakan balasan atas tewasnya Ali Khamenei. Pemimpin tertinggi Iran itu dilaporkan meninggal pada Sabtu dalam operasi militer gabungan AS, akibat serangan rudal Israel berdasarkan intelijen Washington.
Memasuki hari kedua gelombang serangan udara intensif terhadap Iran, AS dan Israel disebut telah menghantam lebih dari 2.000 target. Di sisi lain, Iran merespons dengan meluncurkan ratusan rudal dan drone ke Israel serta negara-negara di kawasan Teluk Persia.
Tank Israel di perbatasan antara Israel dan Lebanon. (AP)