Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa Washington tidak akan mencapai kesepakatan apa pun dengan Iran kecuali jika negara tersebut menyerah tanpa syarat. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya eskalasi konflik yang telah memicu korban jiwa serta ketegangan di berbagai wilayah Timur Tengah.
Sikap tegas tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Jumat, 6 Maret 2026. Pernyataan tersebut juga dinilai memperkecil peluang kompromi, meskipun sebelumnya Iran mengonfirmasi adanya upaya mediasi diplomatik untuk menghentikan konflik.
“Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali PENYERAHAN TANPA SYARAT!” tulis Trump, melalui Truth Social dikutip dari Al Jazeera, Kamis, 7 Maret 2026.
Trump juga menegaskan bahwa setelah situasi tersebut tercapai dan Iran memiliki kepemimpinan baru yang dapat diterima, Amerika Serikat bersama para sekutunya akan membantu negara itu bangkit kembali.
Baca Juga: Trump: Tak Ada Batas Waktu untuk Perang AS dengan Iran
“Setelah itu, dan pemilihan Pemimpin yang HEBAT & DAPAT DITERIMA, kami, dan banyak sekutu dan mitra kami yang luar biasa dan sangat berani, akan bekerja tanpa lelah untuk membawa Iran kembali dari ambang kehancuran, menjadikannya lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat secara ekonomi dari sebelumnya,” tegas Trump.
Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa sejumlah negara tengah berupaya menjadi mediator untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung. Ia menekankan bahwa Iran tetap berkomitmen pada perdamaian regional, namun siap mempertahankan diri jika mendapat ancaman.
“Mediasi harus ditujukan kepada mereka yang meremehkan rakyat Iran dan memicu konflik ini,” kata Pezeshkian dalam sebuah pernyataan di media sosial.
Ketegangan tersebut kini meluas ke berbagai kawasan di Timur Tengah. Serangan yang dilakukan Iran di wilayah Teluk serta konflik antara Hezbollah dan Israel turut memicu krisis pengungsi besar di Lebanon.
Donald Trump (Instagram @realdonaldtrump)
Iran dilaporkan telah meluncurkan rudal dan drone yang menyasar Israel serta kepentingan dan aset Amerika Serikat di sejumlah wilayah. Selain itu, pasukan Iran juga menargetkan infrastruktur energi dan fasilitas sipil di beberapa negara Teluk, yang semakin memperumit hubungan dengan negara-negara Arab.
Ketegangan tersebut bahkan berdampak pada jalur perdagangan energi global setelah Iran dilaporkan menutup sebagian akses di Selat Hormuz. Kondisi itu memicu lonjakan harga minyak di pasar internasional.
Di tengah situasi yang memanas, Trump juga menyebut pemerintah Amerika Serikat telah melakukan evakuasi terhadap ribuan orang dari berbagai negara di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Trump Tawarkan Asuransi dan Pengawalan Militer untuk Kapal di Teluk Persia
“Ini dilakukan secara diam-diam, tetapi lancar,” kata presiden, memuji Menteri Luar Negeri Marco Rubio karena “melakukan pekerjaan yang hebat!”
Pihak Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat sebelumnya menyampaikan bahwa sekitar 20.000 warga Amerika telah berhasil kembali ke negaranya. Pemerintah juga meningkatkan jumlah penerbangan charter untuk mempercepat proses evakuasi, meski tidak merinci detail operasinya.
Meski demikian, kebijakan evakuasi tersebut menuai kritik. Pemerintahan Trump mendapat sorotan setelah sebelumnya mendesak warga Amerika untuk meninggalkan lebih dari selusin negara di Timur Tengah sejak Selasa lalu di tengah meningkatnya konflik regional.
Arsip - Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif di Washington, Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py/pri) (Antara)