Trump Dikabarkan Kecewa atas Serangan Israel ke Depot Minyak Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Mar 2026, 07:14
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Anadolu Ajansi/pri. Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Anadolu Ajansi/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat dilaporkan merasa tidak puas dengan skala serangan udara yang dilakukan Israel terhadap puluhan depot minyak di Iran selama akhir pekan lalu.

Serangan tersebut memicu kebakaran besar di sejumlah lokasi, dan Presiden AS Donald Trump disebut tidak senang dengan operasi yang menargetkan fasilitas bahan bakar tersebut.

Media AS Axios yang mengutip sejumlah sumber yang memahami situasi tersebut, menyebut kejadian ini menjadi indikasi perbedaan pandangan penting pertama antara Washington dan Tel Aviv sejak kedua negara melancarkan serangan besar secara terkoordinasi terhadap Iran pada 28 Februari.

Serangan yang dilakukan oleh Israel Defense Forces (IDF) pada Sabtu, 7 Maret 2026, memicu kebakaran hebat di ibu kota Iran, Teheran. Kobaran api besar terlihat dari jarak beberapa kilometer, sementara asap tebal menyelimuti kawasan tangki penyimpanan bahan bakar serta area industri di sekitar kota.

Baca Juga: Trump Ancam Mojtaba Khamanei: Tak Akan Bertahan Tanpa Persetujuan AS

Laporan menyebutkan bahwa serangan Israel menargetkan sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran.

Militer Israel menyatakan bahwa depot tersebut menjadi sasaran karena dianggap memiliki kaitan dengan aktivitas pemerintah Iran.

Menurut IDF, fasilitas bahan bakar yang diserang itu "digunakan oleh rezim Iran untuk memasok bahan bakar kepada berbagai konsumen, termasuk organ-organ militernya".

Pejabat Israel juga menyebutkan bahwa operasi tersebut bertujuan memberi peringatan kepada Iran agar menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil Israel. Sebelum serangan dilakukan, militer Israel dilaporkan telah memberi pemberitahuan kepada pihak militer Amerika Serikat.

Donald Trump <b>(Instagram @realdonaldtrump)</b> Donald Trump (Instagram @realdonaldtrump)

Meski demikian, pemerintah di Washington disebut terkejut dengan besarnya skala serangan tersebut. Trump bahkan dilaporkan tidak menyukai langkah yang diambil sekutu dekatnya itu.

"Presiden (Trump) tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak. Dia ingin menyelamatkan minyak, bukan membakarnya. Dan itu mengingatkan orang-orang akan kenaikan harga bensin," kata seorang penasihat Trump, yang tidak disebut namanya, saat berbicara kepada Axios.

Sejumlah pejabat Amerika Serikat juga mengkhawatirkan bahwa serangan terhadap infrastruktur yang berfungsi bagi masyarakat sipil Iran justru dapat berdampak sebaliknya secara strategis, termasuk memperkuat dukungan publik terhadap pemerintah di Teheran serta memicu kenaikan harga minyak dunia.

Baca Juga: Trump Minta Iran Menyerah Tanpa Sarat

"Kami rasa itu bukan ide yang bagus," kata seorang pejabat senior AS, yang tidak disebut namanya, seperti dikutip Axios.

Secara terpisah, seorang pejabat di Tel Aviv mengungkapkan kepada Axios bahwa Amerika Serikat menyampaikan pesan singkat kepada Israel terkait serangan tersebut dengan kalimat: "WTF".

Laporan Axios juga menyebutkan bahwa meskipun fasilitas yang menjadi sasaran bukan lokasi produksi minyak utama Iran, para pejabat AS tetap khawatir rekaman video kebakaran besar di depot bahan bakar tersebut dapat mengguncang pasar energi global.

Hingga kini, Gedung Putih maupun militer Israel belum memberikan komentar resmi mengenai laporan tersebut.

x|close