Israel Klaim Tewaskan Komandan Unit Hizbullah di Lebanon Selatan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Mar 2026, 07:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Arsip foto - Bendera nasional Lebanon (kanan) dan bendera Hizbullah. Furkan Güldemir. ANTARA/Anadolu Agency/pri. Arsip foto - Bendera nasional Lebanon (kanan) dan bendera Hizbullah. Furkan Güldemir. ANTARA/Anadolu Agency/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Beirut - Israel mengumumkan perkembangan terbaru terkait pertempuran antara militernya dan kelompok bersenjata Hezbollah yang didukung oleh Iran. Israel menyatakan bahwa pasukannya telah menewaskan kepala Unit Nasr Hizbullah, Abu Hussein Ragheb, yang beroperasi di wilayah selatan Lebanon.

Dilansir dari AFP, Selasa, 20 Maret 2026, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyampaikan bahwa dirinya telah menerima laporan mengenai operasi tersebut.

"Diberi pengarahan tentang pemusnahan komandan Unit Nasr Hizbullah" Abu Hussein Ragheb dalam sebuah serangan.

Unit Nasr diketahui beroperasi di sektor timur wilayah selatan Sungai Litani River di Lebanon. Unit tersebut terlibat dalam serangan lintas perbatasan terhadap Israel setelah serangan yang dilakukan oleh Hamas pada Oktober 2023.

Baca Juga: Korban Tewas Serangan Israel di Lebanon Naik Jadi 394 Orang

Di tengah konflik tersebut, Israel juga dilaporkan melancarkan serangan ke Desa Qlayaa di Lebanon selatan. Serangan ini menyebabkan seorang pendeta, Pierre al-Rai, meninggal dunia setelah terkena tembakan tank Israel.

Menurut laporan National News Agency Lebanon (NNA), sebuah rumah di kota yang mayoritas penduduknya beragama Kristen itu “dihantam dua kali berturut-turut oleh tembakan artileri dari tank musuh Merkava”. Serangan pertama melukai pemilik rumah dan istrinya.

Setelah sejumlah warga sekitar, termasuk Rai dan tim paramedis dari Palang Merah, datang ke lokasi untuk memberikan bantuan, rumah tersebut kembali diserang untuk kedua kalinya. Serangan lanjutan itu melukai Rai serta tiga orang lainnya. Pendeta tersebut kemudian meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya, menurut sumber medis kepada AFP.

Arsip - Sejumlah bangunan hancur akibat serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon Kamis 5 Maret 2026. (ANTARA/Bilal Jawich/Xinhua/pri) <b>(Antara)</b> Arsip - Sejumlah bangunan hancur akibat serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon Kamis 5 Maret 2026. (ANTARA/Bilal Jawich/Xinhua/pri) (Antara)

Hingga kini belum diketahui secara pasti alasan pasukan Israel menargetkan rumah yang berada di pinggiran kota tersebut.

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada Jumat, 6 Maret 2026, Rai diketahui menghadiri pertemuan warga di kota tetangga Marjayoun. Dalam pertemuan itu, warga menyatakan tekad mereka untuk tetap bertahan di rumah masing-masing meskipun ada peringatan evakuasi dari militer Israel kepada seluruh penduduk di wilayah selatan Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan.

"Ketika kami mempertahankan tanah kami, kami mempertahankannya dengan damai, dan kami hanya membawa senjata perdamaian, kebaikan, cinta dan doa," ucap Rai dalam pidatonya.

"Kami terpaksa tetap berada dalam bahaya karena ini adalah rumah kami dan kami tidak akan meninggalkannya," sambungnya.

x|close