Sumber Politik Iran: Waktu Berakhirnya Konflik Timur Tengah Belum Bisa Dipastikan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Mar 2026, 18:58
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Orang-orang menghadiri prosesi pemakaman sejumlah komandan militer tinggi Iran yang tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap negara itu di Teheran, Iran, pada 11 Maret 2026. (ANTARA/Xinhua/Shadati) Orang-orang menghadiri prosesi pemakaman sejumlah komandan militer tinggi Iran yang tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap negara itu di Teheran, Iran, pada 11 Maret 2026. (ANTARA/Xinhua/Shadati) (Antara)

Ntvnews.id, Teheran - Seorang sumber politik di Iran menyatakan belum ada kepastian mengenai kapan konflik bersenjata yang terjadi di kawasan Timur Tengah akan berakhir. Hal tersebut disampaikan kepada kantor berita Rusia RIA Novosti di tengah meningkatnya ketegangan regional.

“Tidak mungkin menyebut hari atau jam pasti gencatan senjata. Hal ini akan jelas ketika pihak lawan menyadari biaya yang ditimbulkan sangat besar,” kata sumber itu, dikutip Kamis, 12 Maret 2026.

Menurutnya, selain waktu berakhirnya perang, cara konflik tersebut diselesaikan juga akan sangat menentukan situasi politik dan keamanan di masa depan.

“Jalannya permusuhan dan cara berakhirnya akan menjadi faktor penentu bagi masa depan,” tambahnya.

Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa penyelesaian konflik di Timur Tengah hanya dapat dicapai apabila hak-hak sah Teheran diakui, disertai pembayaran ganti rugi serta adanya jaminan internasional agar tindakan agresi tidak kembali terjadi.

Baca Juga: Dua Tanker Pertamina Keluar Timur Tengah, Kru dan Kargo Aman

Ketegangan meningkat sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan militer tersebut menyebabkan kerusakan di berbagai lokasi serta menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil.

Sebagai respons, Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Pada awalnya, Amerika Serikat dan Israel menyatakan serangan tersebut merupakan langkah “preemptive” guna menghadapi ancaman yang mereka klaim berasal dari program nuklir Iran.

Namun, keduanya kemudian menyatakan tujuan lain, yakni mendorong perubahan kekuasaan di Iran.

Baca Juga: Presiden Iran Sebut Pengakuan Hak Iran Jadi Kunci Akhiri Perang dengan AS dan Israel

Dalam perkembangan konflik tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan gugur pada hari pertama operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan tersebut. Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, menilai pembunuhan Khamenei sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, serta menyerukan agar segera dilakukan de-eskalasi dan penghentian permusuhan.

(Sumber: Antara)

x|close