Ntvnews.id, Jakarta - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi penggunaan rudal balistik terbaru mereka, Haj Qasem, dalam serangan ke sejumlah target militer Amerika Serikat dan Israel pada Selasa, 17 Maret 2026.
IRGC menyebut rudal Haj Qasem sebagai senjata berpemandu presisi tinggi yang dirancang untuk menghantam target strategis. Nama rudal ini diambil dari Qassem Soleimani, komandan militer Iran yang tewas dan menjadi simbol perlawanan bagi negara tersebut.
Baca Juga: Iran Luncurkan Serangan Rudal Balasan ke Israel Usai Menteri dan Pejabat Keamanan Tewas
Rudal ini memiliki jangkauan hingga sekitar 1.400 kilometer, menggunakan bahan bakar padat, serta dapat diluncurkan dari platform mobile. Dengan kemampuan tersebut, Haj Qasem dinilai mampu menjangkau berbagai target penting di kawasan Timur Tengah secara cepat dan akurat.
Menurut laporan kantor berita Tasnim News Agency, IRGC mengklaim serangan tersebut menyasar sejumlah wilayah strategis di Israel, seperti Tel Aviv, Yerusalem, dan Beit Shemesh.
Tidak hanya itu, serangan juga disebut menyasar fasilitas militer Amerika Serikat di berbagai negara kawasan, termasuk Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Irak.
Baca Juga: Iran Konfirmasi Menteri Intelijen Tewas, Presiden Masoud Sebut Aksi Israel Pengecut
Operasi militer tersebut dilaporkan melibatkan kombinasi drone dan berbagai jenis rudal balistik lain seperti Ghadr, Emad, dan Fattah
IRGC menegaskan bahwa serangan ini bukan yang terakhir. Mereka memperingatkan kemungkinan gelombang serangan berikutnya sebagai respons terhadap aksi militer AS dan Israel terhadap Iran.
Konflik antara Iran dan AS-Israel sendiri telah memasuki hari ke-18. Otoritas Iran menyebutkan bahwa serangan yang terjadi sebelumnya telah menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur dalam skala besar.
(Sumber: Antara)
Rudal Iran. (Antara foto/Xinhua/Chen Junqing/tom/am.) (Antara)