Ntvnews.id
Ia juga menyinggung potensi eskalasi jika infrastruktur energi di kawasan kembali menjadi sasaran.
Trump turut memperingatkan bahwa setiap serangan lanjutan terhadap fasilitas gas alam cair (LNG) milik Qatar dapat memicu respons besar dari Amerika Serikat.
Ia bahkan menyebut kemungkinan penghancuran total fasilitas tersebut jika situasi semakin memanas.
"Amerika Serikat tidak mengetahui apa pun tentang serangan khusus ini (di ladang South Pars) dan negara Qatar sama sekali tidak terlibat di dalamnya, dan juga tidak tahu bahwa itu akan terjadi," tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan laporan sebelumnya yang menyebut bahwa Washington telah mengetahui rencana serangan tersebut, meski tidak terlibat secara langsung.
Trump juga menuding Iran telah menyerang sebagian fasilitas LNG Qatar di Kota Industri Ras Laffan secara tidak adil dan tanpa dasar.
Baca Juga: Qatar: Serangan Israel di Ladang Gas Bersama Iran Berbahaya dan Tidak Bertanggung Jawab
Ia menggambarkan serangan Israel ke ladang South Pars sebagai bentuk respons keras yang dilatarbelakangi kemarahan, meskipun disebut hanya sebagian kecil fasilitas yang terdampak.
Namun demikian, Trump kembali menegaskan ancamannya terhadap kemungkinan serangan lanjutan.
Ia menyatakan bahwa jika infrastruktur LNG Qatar kembali menjadi sasaran, Amerika Serikat akan menghancurkan seluruh Ladang Gas South Pars secara besar-besaran, baik dengan maupun tanpa keterlibatan Israel, dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Trump menambahkan bahwa dirinya sebenarnya tidak menginginkan langkah tersebut karena dapat berdampak jangka panjang terhadap masa depan Iran.
Meski demikian, ia menegaskan tidak akan ragu untuk bertindak jika situasi mengharuskan.
Di sisi lain, laporan dari pejabat Amerika Serikat dan Israel kepada media Axios menyebut bahwa klaim Trump terkait ketidaktahuan atas serangan tersebut tidak sepenuhnya akurat.
Disebutkan bahwa Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berkoordinasi dalam serangan tersebut guna mencegah Iran mengganggu jalur minyak di Selat Hormuz.
Axios juga melaporkan bahwa pejabat Qatar sempat menghubungi utusan khusus Amerika, Steve Witkoff, serta pejabat senior lainnya setelah serangan rudal pertama Iran, untuk memastikan apakah Amerika mengetahui rencana serangan Israel tersebut.
Baca Juga: Lebih dari 61 Ribu Fasilitas Sipil di Teheran Rusak Akibat Konflik
Upaya komunikasi darurat juga dilakukan dengan mencoba mengatur percakapan antara Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani.
Serangan udara Israel diketahui menargetkan sisi Iran dari ladang gas South Pars pada Rabu 18 Maret 2026, yang menyebabkan terhentinya produksi di dua kilang utama.
Sementara itu, Qatar melaporkan adanya dua serangan rudal terpisah di Kota Industri Ras Laffan pada hari yang sama dan berlanjut hingga Kamis pagi.
Sebagai respons atas situasi tersebut, Qatar mengambil langkah diplomatik dengan menetapkan atase militer dan keamanan Iran beserta staf kedutaan sebagai persona non-grata.
(Sumber: Antara)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. ANTARA/Anadolu/as/am. (Antara)