Harga Solar di California Pecah Rekor, Tembus 7,455 Dolar AS per Galon

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Apr 2026, 15:16
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Warga mengisi bahan bakar kendaraan mereka di salah satu SPBU di Los Angeles, California, Amerika Serikat pada 9 Maret 2026. ANTARA/Xinhua/Zeng Hui Warga mengisi bahan bakar kendaraan mereka di salah satu SPBU di Los Angeles, California, Amerika Serikat pada 9 Maret 2026. ANTARA/Xinhua/Zeng Hui (Antara)

Ntvnews.id, Los Angeles – Harga rata-rata solar di negara bagian California, yang dikenal sebagai wilayah dengan perekonomian terbesar di Amerika Serikat, mencetak rekor baru pada Selasa, 31 Maret 2026.

Harga tersebut mencapai 7,455 dolar AS per galon (1 dolar AS = Rp16.999), seiring memanasnya konflik antara AS dan Israel melawan Iran yang telah memasuki bulan kedua.

Capaian ini melampaui rekor sebelumnya sebesar 7,012 dolar AS per galon yang terjadi pada Juni 2022.

Baca Juga: Iran Klaim Pasokan BBM Aman di Tengah Serangan AS-Israel, Kok Bisa?

Selain itu, angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada pekan sebelumnya yang berada di kisaran 7,018 dolar AS per galon.

Data tersebut disampaikan oleh American Automobile Association.

Di tingkat nasional, harga rata-rata solar eceran tercatat sebesar 5,454 dolar AS per galon pada hari yang sama.

Baca Juga: Cara Hemat BBM Kendaraan: Hindari Pemanasan Mesin Terlalu Lama

Berdasarkan data dari California Energy Commission, solar merupakan bahan bakar transportasi terbesar kedua di California, dengan kontribusi sekitar 17 persen dari total penjualan bahan bakar, berada di bawah bensin.

Sementara itu, harga bensin reguler di California juga mengalami kenaikan signifikan. Rata-rata harga mencapai 5,887 dolar AS per galon, meningkat tajam dari 4,643 dolar AS yang tercatat hanya satu bulan sebelumnya.

Menurut Energy Information Administration, tingginya harga bahan bakar di California dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, seperti pajak yang lebih tinggi, kebijakan lingkungan yang ketat, serta keterbatasan kapasitas kilang di wilayah tersebut.

(Sumber: Antara)

x|close