Menteri PPPA: Banyak Anak Perempuan Putus Sekolah Akibat Perkawinan Dini dan Faktor Ekonomi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Apr 2026, 18:01
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi dalam acara bertajuk Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi dalam acara bertajuk (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi mengungkapkan masih banyak anak perempuan di Indonesia yang tidak dapat melanjutkan pendidikan akibat perkawinan usia dini dan keterbatasan ekonomi.

"Di sektor pendidikan, masih banyak kita menemukan anak perempuan yang harus putus sekolah karena perkawinan anak, karena keterbatasan ekonomi, dan juga norma sosial di mana pendidikan lebih diprioritaskan untuk anak laki-laki," kata Arifah Fauzi dalam acara "Pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan" di Jakarta, Rabu, 1 April 2026.

Ia menilai berbagai tantangan yang dihadapi perempuan dan anak, seperti ketimpangan akses pendidikan, terbatasnya peluang ekonomi, serta tingginya risiko kekerasan, menunjukkan perlunya penguatan pembangunan berbasis keadilan gender.

Baca Juga: Menteri PPPA Ajak Orang Tua Aktif Dampingi Anak Gunakan Media Sosial

Menurutnya, pendidikan memiliki peran krusial dalam mendorong pemberdayaan perempuan di berbagai aspek kehidupan.

"Pendidikan adalah fondasi utama pemberdayaan. Pendidikan bukan hanya sekadar pengetahuan untuk mendapatkan akses pengetahuan, tetapi juga membangun kepercayaan diri, memperluas pilihan hidup, dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, baik di tingkat individu maupun di tingkat keluarga dan sosial," kata Arifah Fauzi.

Pemerintah sendiri telah menetapkan pengarusutamaan gender sebagai strategi nasional dalam pembangunan. Namun, implementasinya masih menghadapi sejumlah kendala.

Baca Juga: Menteri PPPA Dorong Perempuan Jadi Motor Generasi Berkualitas Menuju Indonesia Emas 2045

"Berbagai tantangan dan implementasi seperti masih terbatasnya pemahaman tentang gender, belum meratanya kapasitas sumber dana manusia, serta belum optimalnya sinergi lintas sektor," kata Arifah Fauzi.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat mendorong terwujudnya sistem pendidikan yang lebih adil dan inklusif, sekaligus membuka peluang yang setara bagi seluruh perempuan di Indonesia.

"Karena kita semua meyakini tidak ada pembangunan yang berkualitas tanpa kesetaraan gender," kata Arifah Fauzi.

(Sumber: Antara)

x|close