Trump Rencanakan Tarik Pasukan AS dari Iran dalam 2-3 Pekan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Apr 2026, 07:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Donald Trump mengatakan kepada The Telegraph: 'Saya tidak pernah terpengaruh oleh NATO. Saya selalu tahu mereka hanyalah macan kertas. Donald Trump mengatakan kepada The Telegraph: 'Saya tidak pernah terpengaruh oleh NATO. Saya selalu tahu mereka hanyalah macan kertas. (Telegraph)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan mengumumkan rencana penarikan pasukan militernya dari Iran dalam waktu dua hingga tiga pekan ke depan. Kebijakan ini muncul di tengah tekanan dalam negeri akibat lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) serta perlawanan kuat dari pihak Iran.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa upaya menekan harga bensin yang kini menyentuh rata-rata nasional 4 dolar AS per galon dapat dilakukan dengan mengakhiri keterlibatan militer di kawasan tersebut. Ia menilai, mundurnya pasukan menjadi langkah paling realistis untuk menghentikan konflik yang telah mengganggu rantai pasok energi global sekaligus mengguncang stabilitas ekonomi dunia.

"Saya rasa dalam dua atau tiga pekan kita akan pergi," ujar Trump, dilansir dari Reuters, Kamis, 2 April 2026.

Baca Juga: KPK Geledah Rumah Politisi PDIP Ono Surono, Terkait Kasus Suap Proyek Bupati Bekasi

Selain itu, Trump juga menyampaikan sikap tegas terkait permintaan dukungan dari sekutu di Eropa dan aliansi NATO dalam menjaga pasokan minyak dan gas. Ia menegaskan bahwa negara-negara tersebut seharusnya mampu mengamankan kebutuhan energinya secara mandiri.

"Jika Prancis atau negara lain ingin mendapatkan minyak atau gas, mereka akan melewati Selat Hormuz dan mereka bisa menjaga diri mereka sendiri," tambahnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan arah kebijakan luar negeri Washington yang cukup signifikan. Sebelumnya, selama lebih dari satu bulan, AS meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui serangan ke infrastruktur energi dan sipil, serta menetapkan tenggat waktu untuk pembukaan kembali Selat Hormuz.

Arsip foto - Kapal tanker minyak Inggris  <b>(Antara)</b> Arsip foto - Kapal tanker minyak Inggris (Antara)

Sementara itu, pemerintah Iran melalui Menteri Luar Negeri Sayyid Abbas Araqchi merespons pernyataan tersebut dengan sikap hati-hati. Dalam wawancara dengan Al Jazeera di Teheran, ia menegaskan bahwa Iran tetap berkomitmen mempertahankan kedaulatan negaranya tanpa terpengaruh tekanan pihak luar.

Araqchi juga menekankan bahwa kekuatan militer Iran masih mampu bertahan dalam konflik jangka panjang. Ia bahkan menyatakan kesiapan negaranya untuk menghadapi pertempuran setidaknya selama enam bulan ke depan jika diperlukan.

x|close