Ntvnews.id, Taheran - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki kepercayaan terhadap Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Araghchi menyampaikan bahwa komunikasi dengan pihak AS masih berlangsung, baik secara langsung maupun melalui perantara. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai negosiasi. Ia juga membantah klaim pejabat AS terkait adanya perundingan dengan Iran.
Ia menekankan bahwa pengalaman masa lalu, termasuk keputusan AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015, menjadi alasan utama hilangnya kepercayaan tersebut.
“Kami tidak memiliki kepercayaan bahwa negosiasi dengan AS akan menghasilkan apa pun. Tingkat kepercayaan berada di angka nol,” ujar Araghchi, dikutip dari Press TV, Minggu, 5 April 2026.
Baca Juga: Kereta Cepat Whoosh Mendadak Berhenti di Kopo Bandung, Ini Penyebabnya
Terkait kemungkinan serangan darat dari AS, Araghchi menegaskan kesiapan penuh Iran untuk menghadapi segala skenario. Ia bahkan meragukan keberanian Amerika Serikat dalam melancarkan operasi tersebut.
Ia juga menjelaskan kebijakan penutupan Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang dianggap sebagai pihak musuh. Menurutnya, langkah itu merupakan bagian dari strategi perang dan hanya berlaku bagi negara yang terlibat langsung dalam konflik.
Araghchi menegaskan bahwa Iran menolak gencatan senjata sementara dan menginginkan perang berakhir secara menyeluruh di kawasan. Ia juga menuntut adanya jaminan agar serangan tidak terulang, serta kompensasi atas kerugian yang dialami rakyat Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi berbicara selama konferensi pers bersama setelah pertemuan mereka di Baghdad, Irak. ANTARA/Murtadha Al-Sudani/Anadolu/pr (Antara)
Selain itu, ia menyatakan bahwa Iran tidak akan menerima jaminan dari pihak ketiga, termasuk Dewan Keamanan PBB, karena dinilai tidak cukup mampu memastikan berakhirnya agresi. Saat ini, menurutnya, prioritas utama Iran adalah melindungi kepentingan nasional dari ancaman luar.
Araghchi juga menolak tenggat waktu yang diberikan Presiden AS, Donald Trump, dan menyebut pendekatan tersebut tidak efektif. Ia menegaskan bahwa Iran tidak dapat ditekan melalui ancaman dan akan memberikan respons tegas jika dipaksa.
Meski demikian, Iran disebut tetap membuka peluang untuk menjalin hubungan yang saling menghormati dengan negara-negara di kawasan setelah konflik berakhir. Ia menilai stabilitas regional dapat kembali terwujud apabila seluruh pihak menghormati kedaulatan masing-masing negara.
Menteri Luar Iran Seyed Abbas Araghchi. ANTARA/Xinhua/Shadati/aa. (Antara)