Soal Banner Film Aku Harus Mati, IDAI Minta Sineas Lebih Bijak dalam Memilih Judul

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Apr 2026, 13:51
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) (NTVNews)

Ntvnews.id, Jakarta - Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) ikut bereaksi soal viralnya tayangan iklan film horor terbaru yang berjudul "Aku Harus Mati" karya Hestu Saputra yang mulai tayang sejak 2 April lalu.

Menurut penjelasan Piprim, jika pemilihan judul yang tepat sebaiknya menjadi fokus utama produser dan sutradara agar bisa menginspirasi penonton dalam berbagai macam kondisi kesehatan mental. Dengan penggunaan judul "Aku Harus Mati", Piprim menilai jika makna tersebut justru membuat sejumlah anak dan masyarakat awam merasa termotivasi dengan tontonan tersebut.

"Sebetulnya di Indonesia itu pada data dari Kementerian Kesehatan sekitar 10% remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Angka tersebut cukup banyak, kalau orang yang depresi berat tiba-tiba melihat banner itu dan kemudian ada afirmasi bahwa dia ingin bunuh diri, itu terkonfirmasi untuk bunuh diri pada diri dia," kata Dr. Piprim Basarah, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, 6 April 2026.

Baca Juga: IDAI Peringatkan Ancaman KLB Campak, Serukan Kejar Imunisasi Anak

Tak lupa, IDAI juga mengimbau agar tidak ada lagi penggunaan judul yang tidak menyesatkan dan bermakna negatif bagi sebagian orang penderita gangguan mental.

"Saya kira Kami mengimbau dari IDAI ayolah para produser film coba banyak diskusi dengan para pakar psikolog atau pakar kesehatan anak atau kesehatan jiwa, seperti apa membuat konten yang tetap bisa cuan, tapi juga bisa mengedukasi masyarakat kan banyak pilihan judulnya kenapa harus Aku Harus Mati yang jadi pilihan," jelasnya.

Menurutnya dengan adanya penayangan film tersebut, dituding kurang mengedukasi baik sebagai sarana tontonan anak hingga remaja, dan juga dianggap tidak berkah dari setiap keuntungan yang diraihnya selama penayangan film.

"Kalau dalam pemahaman agama pasti nggak berkah, karena ini bisa membuat orang-orang yang menderita gangguan kesehatan mental menjadi berbahaya," pungkas Piprim.

x|close