Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengimbau semua pihak agar tidak memicu provokasi kepada publik untuk menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto melalui cara-cara yang tidak sesuai dengan konstitusi.
"Itu menurut saya, bukan ciri-ciri intelektual," kata Fadli Zon di Jakarta, Rabu, menanggapi adanya pernyataan seorang pengamat untuk menjatuhkan Prabowo.
Fadli menilai, ada kalanya pihak yang mengaku menjunjung demokrasi justru belum memahami makna demokrasi secara utuh. Menurutnya, ajakan kepada masyarakat untuk melakukan tindakan di luar jalur konstitusi merupakan praktik yang tidak sehat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Baca Juga: Organisasi Sayap Gerindra Gelar Silaturahmi Kebangsaan, Tegaskan Toleransi dan Persatuan Nasional
Ia menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah tetap diperbolehkan dan bahkan diperlukan dalam sistem demokrasi. Namun, kritik tersebut harus berbasis data dan dapat dipertanggungjawabkan, terlebih jika disampaikan oleh kalangan intelektual.
Lebih lanjut, Fadli menyebut Presiden Prabowo sebagai sosok yang memahami prinsip demokrasi. Ia menjelaskan bahwa setelah purnatugas dari militer, Prabowo memilih jalur sipil dengan mendirikan partai politik dan aktif dalam proses demokrasi di Indonesia.
Menurutnya, Prabowo telah mengikuti pemilihan presiden sebanyak empat kali hingga akhirnya meraih kemenangan bersama Gibran Rakabuming Raka dengan perolehan sekitar 58 persen suara atau lebih dari 96 juta suara.
Baca Juga: Fadli Zon: Buku 'Sejarah Indonesia' Bakal Bisa Diakses Akhir April 2026
"Itu artinya apa? Pak Prabowo tidak pernah menyerah pada demokrasi. Tidak pernah menyerah pada jalan demokrasi. Kalau dulu, orang ingin mendapatkan mandat, kekuasaan, itu dengan perang," katanya.
Karena itu, Fadli menilai anggapan yang menyebut Prabowo sebagai sosok otoriter tidak memiliki dasar sejarah yang kuat. "Prabowo itu sudah memilih jalan demokrasi dari dulu," katanya.
(Sumber: Antara)
Wakil Ketua Umum Gerindra yang juga Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, Rabu(8/4/2026). ANTARA/Unggul TR (Antara)