Pakistan Minta AS dan Iran Tetap Hormati Gencatan Senjata Usai Negosiasi Buntu

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Apr 2026, 06:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera nasional Iran dan Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py/pri.) Ilustrasi - Bendera nasional Iran dan Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py/pri.) (Antara)

Ntvnews.id, Islamabad - Wakil Perdana Menteri Pakistan, Ishaq Dar, mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk tetap mematuhi kesepakatan gencatan senjata setelah perundingan damai antara kedua negara mengalami kebuntuan pada Minggu, 12 April 2026.

Dalam pernyataan resminya, Dar menegaskan pentingnya kedua pihak untuk tetap berpegang pada komitmen yang telah disepakati.

"untuk terus menjunjung tinggi komitmen mereka terhadap gencatan senjata". jelasnya, dikutip dari AFP, Senin, 13 April 2026.

Ia juga berharap kedua negara dapat mempertahankan suasana positif demi tercapainya stabilitas kawasan.

"Kami berharap kedua pihak akan terus melanjutkan semangat positif guna mencapai perdamaian dan kemakmuran yang berkelanjutan bagi seluruh kawasan dan sekitarnya," kata Dar, seperti dikutip Al Jazeera.

Dar menambahkan bahwa Pakistan akan terus berperan aktif dalam memfasilitasi dialog antara Washington dan Teheran. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada kedua negara atas penghargaan terhadap upaya Islamabad dalam mendorong tercapainya gencatan senjata.

Baca Juga: Perundingan Damai Iran-AS Gagal, Wapres Vance: Berita Buruk

"(Pakistan berharap kedua pihak dapat terus melanjutkan) semangat positif untuk mencapai perdamaian yang langgeng," tutupnya.

Sebelumnya, perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang digelar di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu pagi. Pertemuan tatap muka pertama yang berlangsung selama 21 jam itu dimediasi oleh Pakistan.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut kebuntuan terjadi karena Iran menolak sejumlah tuntutan Washington, termasuk penghentian program nuklir Teheran. Ia bahkan menilai hasil negosiasi tersebut sebagai "kabar buruk" bagi Iran.

Sebelum kesepakatan gencatan senjata tercapai pada Rabu, 8 April 2026, Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan ancaman keras terhadap Iran.

Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Celal Gunes/Anadolu/pri <b>(Antara)</b> Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Celal Gunes/Anadolu/pri (Antara)

Sementara itu, sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran menyebut Teheran belum berencana melanjutkan pembicaraan dalam waktu dekat. Iran tetap bersikeras agar seluruh tuntutannya dipenuhi oleh Amerika Serikat.

"Iran tidak terburu-buru, dan sampai AS menyetujui kesepakatan yang wajar, tidak akan ada perubahan status Selat Hormuz," ujar sumber tersebut.

Dalam negosiasi, Iran dilaporkan mengajukan sejumlah tuntutan, termasuk pencairan aset yang dibekukan di luar negeri, kendali atas Selat Hormuz, kompensasi perang, serta penerapan gencatan senjata di berbagai wilayah termasuk Lebanon.

Selain itu, Teheran juga menginginkan hak untuk memungut biaya transit bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

x|close