Ntvnews.id, Budapest - Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán mengalami kekalahan dalam pemilihan umum untuk pertama kalinya dalam 16 tahun masa kekuasaannya.
Berdasarkan hasil sementara pemungutan suara pada Minggu, 12 April 2026, Orban kalah telak dari rivalnya, Péter Magyar, yang partainya berhasil meraih suara mayoritas.
Dilansir dari BBC, Senin, 13 April 2026, Orban telah mengakui kekalahannya melalui pidato yang disampaikan kepada para pendukungnya.
"Hasil pemilu ini jelas dan menyakitkan," kata Orban.
Di sisi lain, Magyar dalam pernyataan terpisah mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima panggilan telepon dari Orban yang menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan tersebut.
Baca Juga: Trump Pertimbangkan Serangan Terbatas ke Iran di Tengah Rencana Blokade Selat Hormuz
"Viktor Orban baru saja menelepon saya dan mengucapkan selamat atas kemenangan kami," ujar pemimpin oposisi Hungaria tersebut.
Kekalahan ini menjadi yang pertama bagi Orban sejak ia mulai memimpin pada 2010. Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas pemimpin berusia 62 tahun itu disebut menurun akibat stagnasi ekonomi dan meningkatnya biaya hidup. Selain itu, laporan mengenai kedekatan pemerintah dengan oligarki yang semakin memperkaya diri turut memengaruhi citranya.
Sejumlah jajak pendapat sebelumnya juga menunjukkan partai yang dipimpin Orban, Fidesz, tertinggal dari partai oposisi tengah-kanan pimpinan Magyar, Tisza, dengan selisih sekitar 7 hingga 9 persen. Elektabilitas Tisza tercatat berada di kisaran 38 hingga 41 persen.
Hasil penghitungan sementara memperlihatkan Tisza berpotensi mengamankan 138 kursi parlemen, melampaui ambang batas mayoritas sebanyak 133 kursi. Proyeksi ini didasarkan pada 96,37 persen suara yang telah masuk.
Hasil pemilu Hungaria ini menjadi perhatian global karena dinilai berpotensi memengaruhi dinamika geopolitik, termasuk hubungan dengan Rusia sebagai salah satu sekutu Hungaria. Dampaknya juga diperkirakan terasa di kalangan kelompok sayap kanan di Barat, termasuk di Amerika Serikat, khususnya bagi Presiden Donald Trump.
Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán (Istimewa)
Selama ini, Orban dikenal sebagai nasionalis euroskeptis yang mengusung konsep "demokrasi illiberal", yang kerap disebut sebagai inspirasi bagi gerakan Make America Great Again (MAGA) milik Trump serta pendukungnya di Eropa.
Trump sendiri beberapa kali menyatakan pujian dan dukungannya kepada Orban, yang dianggapnya sebagai figur penting bagi gerakan sayap kanan Kristen nasionalis.
Masa kepemimpinan Orban selama 16 tahun juga menjadikannya sebagai salah satu pemimpin terlama di Uni Eropa. Meski Hungaria merupakan anggota Uni Eropa dan NATO, Orban dikenal memiliki hubungan erat dengan Rusia, terutama dengan Presiden Vladimir Putin.
Kedekatan tersebut turut memengaruhi kebijakan Hungaria, termasuk sikapnya yang beberapa kali memveto bantuan Uni Eropa bernilai puluhan miliar euro untuk Ukraina. Hal ini kerap memicu ketegangan antara Hungaria dan negara-negara Eropa lainnya.
Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán (Istimewa)