Putin Siap Bantu Iran Wujudkan Perdamaian Timur Tengah Usai Negosiasi dengan AS Gagal

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Apr 2026, 09:01
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Presiden Rusia Vladimir Putin. (ANTARA/Xinhua/Cao Yang/aa Presiden Rusia Vladimir Putin. (ANTARA/Xinhua/Cao Yang/aa (Antara)

Ntvnews.id, Moskow - Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapan negaranya untuk membantu Iran dalam mewujudkan perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Dilansir dari AFP, Selasa, 14 April 2026, pernyataan tersebut disampaikan Putin saat melakukan pembicaraan via telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menyusul kegagalan perundingan antara Teheran dan Amerika Serikat di Pakistan.

Dalam komunikasi tersebut, Putin menegaskan komitmennya untuk mendukung penyelesaian konflik melalui jalur politik dan diplomatik terkait serangan AS terhadap Iran, dengan tujuan menciptakan perdamaian yang adil dan berkelanjutan di Timur Tengah.

Sementara itu, Presiden Pezeshkian menyampaikan apresiasi kepada Rusia atas bantuan kemanusiaan yang telah diberikan kepada negaranya. Ia juga memuji sikap Moskow di berbagai forum internasional yang dinilai konsisten dalam upaya meredakan konflik.

Seperti diketahui, perundingan antara Iran dan AS berakhir tanpa kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance menuduh Iran menolak memenuhi tuntutan utama Washington, khususnya komitmen tegas untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Baca Juga: Bertolak ke Rusia, Prabowo Akan Bertemu Presiden Vladimir Putin

“Tujuan ini tidak dapat ditawar,” ujar Vance, sembari menambahkan bahwa proses negosiasi tetap dikoordinasikan dengan Presiden AS Donald Trump dan jajaran pemerintahannya.

Di sisi lain, Iran justru menyalahkan pihak AS atas kegagalan perundingan tersebut. Otoritas penyiaran negara Iran menilai tuntutan yang diajukan Washington terlalu berlebihan dan tidak realistis.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui Telegram, televisi pemerintah Iran mengungkap bahwa delegasi mereka telah melakukan negosiasi intensif selama 21 jam demi mempertahankan kepentingan nasional.

Teheran juga mengklaim telah menawarkan berbagai inisiatif dalam perundingan tersebut, namun menilai tuntutan AS "tidak masuk akal" sehingga menghambat kemajuan dan memaksa proses negosiasi berakhir tanpa kesepakatan.

x|close