Ntvnews.id,
Meski demikian, Trump tetap optimistis bahwa Teheran pada akhirnya akan menerima persyaratan yang diajukan Washington untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir.
"Saya pikir mereka akan menyetujuinya. Saya hampir yakin. Bahkan saya yakin. Jika mereka tidak setuju, tidak akan ada kesepakatan. Iran tidak akan memiliki senjata nuklir," kata Trump pada Senin, 13 April 2026.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin tim negosiasi, bersama Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff serta Jared Kushner dalam pembicaraan yang dimediasi oleh Pakistan tersebut.
"Yah, dia (Vance) telah melakukan pekerjaan yang baik, begitu pula Steve dan Jared, mereka semua melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Kami telah dipanggil oleh pihak lain (Iran).
Baca Juga:
Mereka sangat ingin membuat kesepakatan," kata Trump, saat ditanya kemungkinan pengiriman kembali Vance untuk melanjutkan pembicaraan.
Pertemuan antara Iran dan Amerika Serikat tersebut berlangsung di Islamabad pada Sabtu (11 April 2026), setelah sebelumnya diumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara kedua negara.
Namun, perundingan yang dinilai sebagai salah satu momen paling penting sejak kedua negara memutus hubungan diplomatik pada 1979 itu belum menghasilkan kesepakatan konkret untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Usai kegagalan tersebut, Trump mengambil langkah tegas dengan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk melakukan blokade di Selat Hormuz mulai Senin pukul 14.00 GMT atau 21.00 WIB.
Baca Juga: Rusia Tarik Hampir Semua Staf dari PLTN Nuklir Iran di Tengah Ancaman Serangan
Menurutnya, kebijakan tersebut bertujuan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, menekan harga minyak global, serta mendorong Iran agar kembali ke meja perundingan.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menilai langkah blokade yang dilakukan Amerika Serikat sebagai bentuk aksi balasan yang berdampak terhadap perekonomian global.
(Sumber: Antara)
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. /ANTARA/Anadolu/Kyle Mazza/pri. (Antara)