Ntvnews.id, Washington D.C - Rusia menyatakan keinginan untuk mengambil alih kepemilikan uranium yang telah diperkaya milik Iran sebagai bagian dari upaya diplomatik menyelesaikan konflik yang masih berlangsung. Namun, gagasan tersebut langsung mendapat penolakan dari Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari Reuters, Jumat, 17 April 2026, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, mengungkapkan bahwa Presiden Vladimir Putin telah mengajukan proposal itu sebelumnya dan menyebutnya sebagai solusi yang sangat baik, meski pada akhirnya ditolak oleh Washington.
"Rusia siap menerima uranium yang diperkaya milik Iran di wilayahnya," kata Peskov kepada saluran televisi India Today, seperti dikutip kantor berita RIA.
"Ini akan menjadi keputusan yang baik. Tetapi sayangnya pihak Amerika menolak proposal ini," ucapnya.
Peskov menambahkan bahwa Putin tetap terbuka untuk mengkaji kembali usulan tersebut apabila diminta oleh pihak-pihak terkait.
Baca Juga: AS Terapkan Blokade Laut ke Pelabuhan Iran, Tegaskan Bukan di Selat Hormuz
Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa Rusia pertama kali menawarkan rencana tersebut pada Juni tahun lalu, namun tidak berlanjut. Moskow kembali mengajukannya dalam pekan ini.
Sementara itu, laporan media AS yang mengutip sejumlah sumber menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump menolak gagasan tersebut. Di sisi lain, Iran dilaporkan menyatakan bahwa keputusan terkait hal itu akan bergantung pada hasil negosiasi dengan AS, termasuk terkait program nuklirnya.
Washington sebelumnya menjadikan keberadaan uranium yang telah diperkaya milik Iran—serta potensi pengembangannya menjadi senjata nuklir—sebagai alasan utama dalam melancarkan serangan terhadap Teheran.
Seorang wakil Menteri Luar Negeri Rusia pada tahun lalu juga pernah menyampaikan kesiapan negaranya untuk memindahkan uranium Iran dan mengolahnya menjadi bahan bakar reaktor sipil, sebagai bagian dari upaya mendukung jalannya perundingan.
Arsip - Ilustrasi negara Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)
Pemindahan stok uranium Iran menjadi salah satu tuntutan utama AS dalam negosiasi damai guna mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari. Sebagian besar material tersebut, sekitar 450 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan hingga 60 persen, dilaporkan tersimpan di bawah fasilitas nuklir Iran yang sebelumnya menjadi target serangan AS dan Israel pada Juni tahun lalu.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa Iran harus menyerahkan stok tersebut secara sukarela, atau AS akan mengambil langkah lain untuk mendapatkannya.
Dalam pernyataannya, Peskov juga menolak alasan yang digunakan untuk membenarkan perang antara AS dan Israel terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa International Atomic Energy Agency tidak pernah menemukan bukti bahwa Iran tengah mengembangkan senjata nuklir.
Menurutnya, tuduhan tersebut digunakan "sebagai dalih untuk agresi".
Baca Juga: Janji China ke AS: Tak Pasok Senjata ke Iran
Saat ditanya mengenai kemungkinan dukungan intelijen atau logistik Rusia kepada Iran, Peskov menegaskan: "Rusia tidak ikut serta dalam hal ini. Ini bukanlah perang kami."
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut Moskow memberikan bantuan militer kepada Teheran “dalam berbagai arah”, tanpa merinci apakah termasuk dukungan intelijen terhadap aktivitas militer AS.
Di sisi lain, utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff sebelumnya menyatakan bahwa Putin telah secara langsung meyakinkan Trump bahwa Rusia tidak membagikan informasi intelijen kepada Iran.
Ilustrasi - Bendera nasional Amerika Serikat dan Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)