Trump Klaim Iran Siap Serahkan Uranium, Negosiasi Damai Disebut Hampir Tercapai

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Apr 2026, 12:17
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden AS Donald Trump . ANTARA/Anadolu/pri. Arsip foto - Presiden AS Donald Trump . ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah menyetujui untuk menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya.

Dilansir dari Channel News Asia, Jumat, 17 April 2026, Trump juga mengungkapkan bahwa kedua pihak kini berada di ambang kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, Amerika Serikat mengancam akan melanjutkan serangan udara terhadap Iran serta mempertahankan blokade laut di pelabuhan-pelabuhan negara tersebut jika Teheran menolak kesepakatan penyelesaian konflik yang dimulai sejak 28 Februari.

Di sisi lain, dalam perkembangan berbeda, Trump juga mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah mencapai kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari yang mulai berlaku pada Kamis. Ia bahkan menyebut para pemimpin kedua negara kemungkinan akan hadir di Gedung Putih dalam "empat atau lima hari".

Anggota parlemen Hizbullah, Ibrahim al-Moussawi, mengatakan kepada AFP bahwa kelompoknya akan mematuhi gencatan senjata selama serangan Israel terhadap militan dihentikan.

Kesepakatan ini disambut positif oleh pemerintah Lebanon dan Israel. Gencatan senjata tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah AS dan Iran lebih dulu menyepakati penghentian konflik secara terpisah, di tengah upaya diplomatik Pakistan untuk mempertemukan kembali Washington dan Teheran dalam perundingan lanjutan.

Media pemerintah Iran juga menayangkan pertemuan antara kepala militer Pakistan Asim Munir dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang sebelumnya memimpin delegasi Iran dalam putaran awal perundingan yang berakhir tanpa kesepakatan.

Baca Juga: Trump Klaim Iran Siap Serahkan Uranium, Kesepakatan Nuklir Disebut Makin Dekat

Duta Besar Iran untuk PBB menyampaikan bahwa Teheran bersikap hati-hati namun tetap optimistis terhadap proses negosiasi dengan AS, serta berharap tercapai hasil yang signifikan.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi serius jika mengambil langkah yang keliru.

"Jika Iran memilih dengan buruk, maka mereka akan menghadapi blokade dan bom yang dijatuhkan pada infrastruktur, listrik, dan energi."

Trump kemudian menegaskan kepada wartawan bahwa peluang tercapainya kesepakatan sangat besar, bahkan membuka kemungkinan dirinya datang ke Pakistan untuk menandatangani perjanjian tersebut.

"Mereka telah setuju untuk mengembalikan debu nuklir kepada kita," kata Trump, seperti dikutip Channel News Asia, Jumat 17 April 2026.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/aa) <b>(Antara)</b> Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/aa) (Antara)

Pernyataan tersebut merujuk pada persediaan uranium yang telah diperkaya, yang menurut AS berpotensi digunakan untuk pengembangan senjata nuklir.

Trump juga menekankan bahwa setiap kesepakatan harus memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Ia sebelumnya melancarkan serangan dengan alasan Teheran tengah mempercepat pengembangan bom atom, meski klaim itu tidak didukung oleh badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dalam negosiasi, Washington disebut mengusulkan penghentian program pengayaan uranium Iran selama 20 tahun. Sementara itu, Iran hanya menawarkan jeda selama lima tahun, yang ditolak oleh pihak AS.

Baca Juga: Trump Murka ke Media AS Usai Sebut Iran Menang Perang

Teheran sendiri tetap bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai. Kementerian luar negeri Iran bahkan menegaskan bahwa hak negara tersebut untuk memperkaya uranium adalah "tidak dapat disangkal", meskipun tingkat pengayaannya masih bisa dinegosiasikan.

Di dalam negeri AS, Dewan Perwakilan Rakyat menolak upaya dari Partai Demokrat untuk membatasi kewenangan Trump dalam melancarkan perang terhadap Iran.

Pemungutan suara tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran di Capitol Hill terkait konflik yang telah berlangsung selama enam minggu, terutama menyangkut biaya yang membengkak, ketidakjelasan hasil akhir, serta potensi meluasnya perang.

x|close