Di Tengah Konflik AS-Iran, Korea Utara Genjot Produksi Senjata Nuklir

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Apr 2026, 12:33
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kedua kiri) menghadiri upacara peluncuran kapal selam tempur nuklir taktis pertama di Korea Selatan, Rabu, 6 September 2023. Tugas pertama kapal selam nuklir itu adalah berpatroli di perairan antara Semenanjung Korea Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kedua kiri) menghadiri upacara peluncuran kapal selam tempur nuklir taktis pertama di Korea Selatan, Rabu, 6 September 2023. Tugas pertama kapal selam nuklir itu adalah berpatroli di perairan antara Semenanjung Korea (Antara)

Ntvnews.id, Pyongyang - Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyampaikan bahwa Korea Utara menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan produksi senjata nuklir.

Pernyataan tersebut disampaikan berdasarkan hasil pemantauan terbaru terhadap aktivitas nuklir negara tersebut, di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

"Semua itu menunjukkan peningkatan yang serius dalam kemampuan DPRK di bidang produksi senjata nuklir," kata Grossi, dikutip dari The Straits Times, Jumat, 17 April 2026.

IAEA mencatat sejumlah aktivitas yang mengindikasikan perkembangan tersebut, termasuk pengoperasian reaktor berkapasitas 5MW, fasilitas pengolahan ulang, serta reaktor air ringan dan berbagai instalasi lainnya di kompleks nuklir Yongbyon.

Selain itu, lembaga tersebut juga mengidentifikasi pembangunan fasilitas baru yang memiliki kemiripan dengan pabrik pengayaan uranium, yang menandakan adanya peningkatan kapasitas produksi.

Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat ke 7.645 di Tengah Pasar Cermati Negosiasi AS–Iran

Menurut Grossi, program nuklir Korea Utara saat ini diperkirakan telah menghasilkan puluhan hulu ledak. Indikasi ini terlihat dari aktivitas di sejumlah fasilitas, termasuk yang berada di luar kawasan Yongbyon.

Temuan ini turut diperkuat oleh analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), yang pada 13 April melaporkan bahwa citra satelit terbaru menunjukkan keberadaan fasilitas pengayaan uranium baru yang diduga mampu memproduksi bahan untuk senjata nuklir.

Meski demikian, Grossi menyatakan bahwa hingga kini IAEA belum menemukan bukti adanya keterlibatan teknologi Rusia dalam program nuklir Korea Utara.

Ia menilai kerja sama antara Rusia dan Korea Utara pada 2025 kemungkinan masih terbatas pada pengembangan nuklir untuk tujuan sipil, meskipun tetap dalam pengawasan ketat.

"Bergerak menuju senjata nuklir tidak akan pernah memberikan peningkatan keamanan bagi negara mana pun," kata Grossi.

x|close