Maskapai Nigeria Bakal Hentikan Penerbangan Gara-gara Harga Avtur Melonjak

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Apr 2026, 16:45
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Pesawat terbang. (ANTARA/Anadolu/py.) Ilustrasi - Pesawat terbang. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)

Ntvnews.id

Moskow - Sejumlah maskapai penerbangan di Nigeria berencana menghentikan operasional mulai 20 April 2026 akibat lonjakan tajam harga bahan bakar pesawat di tengah konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Hal tersebut dilaporkan oleh The Guardian Nigeria.

Mengutip Direktur Asosiasi Operator Penerbangan Nigeria (AON) Abdulmunaf Sarina, Jumat, 17 April 2026, disebutkan bahwa harga avtur mengalami kenaikan signifikan hingga hampir 300 persen, dari 900 naira menjadi 3.300 naira per liter (sekitar Rp11.529 menjadi Rp42.272).

Kenaikan harga tersebut memberikan tekanan besar terhadap biaya operasional maskapai dan berpotensi mengganggu layanan penerbangan domestik di Nigeria.

Baca Juga: KLM Batalkan 160 Penerbangan di Eropa Akibat Kenaikan Biaya Avtur

Konflik di Timur Tengah sendiri memanas sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, termasuk di ibu kota Teheran, yang mengakibatkan kerusakan serta korban jiwa dari kalangan sipil.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Pada 11 April 2026, Iran dan Amerika Serikat sempat melakukan perundingan di Islamabad setelah adanya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan. Namun, pembicaraan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan lanjutan.

Situasi semakin memanas setelah Angkatan Laut Amerika Serikat pada 13 April 2026 memulai blokade terhadap jalur pelayaran yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Avtur Melonjak, Pemerintah Jaga Harga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau

Selat tersebut merupakan jalur vital bagi distribusi energi global karena menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak, produk turunan minyak, serta gas alam cair dunia.

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa kapal non-Iran tetap diperbolehkan melintas di Selat Hormuz selama tidak melakukan pembayaran pungutan kepada pihak Teheran.

Sementara itu, Iran hingga kini belum mengumumkan kebijakan resmi terkait pungutan tersebut.

(Sumber: Antara)

x|close