Iran Tolak Negosiasi dengan AS di Bawah Ancaman, Kritik Blokade Selat Hormuz

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Apr 2026, 13:53
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip foto - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. /ANTARA/Anadolu Ajensi/pri. Arsip foto - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. /ANTARA/Anadolu Ajensi/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Washington - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya menolak melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat apabila dilakukan di bawah tekanan atau ancaman.

Dalam pernyataannya pada Senin, 20 April 2026, Ghalibaf yang terlibat dalam proses perundingan mengkritik kebijakan Presiden AS, Donald Trump, terutama terkait keputusan memberlakukan blokade di Selat Hormuz yang dinilai sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang masih rapuh.

Ia menyampaikan melalui platform X bahwa langkah Trump dianggap sebagai upaya untuk menekan Iran dalam perundingan.

Trump berupaya menggunakan ancaman untuk mengubah perundingan menjadi “meja penyerahan diri atau untuk membenarkan kembali perang.”

Baca Juga: Trump Ancam Banyak Bom Meledak Jika Gencatan Senjata dengan Iran Berakhir

Ghalibaf juga menegaskan bahwa Iran telah menyiapkan opsi militer baru jika gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi oleh Pakistan berakhir dalam waktu dekat.

Sebelumnya, pada Minggu, 19 April 2026, Trump mengumumkan bahwa delegasi AS akan bertolak ke Islamabad untuk melanjutkan negosiasi, meskipun pihak Iran belum memastikan partisipasinya dan menuntut pencabutan blokade sebagai syarat utama.

Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat mempertahankan blokade angkatan laut terhadap aktivitas keluar-masuk kapal di pelabuhan Iran sejak pekan lalu. Pemerintah Iran menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlangsung.

Trump juga memperingatkan bahwa AS akan menargetkan infrastruktur Iran jika Teheran tidak menerima syarat yang diajukan Washington untuk mengakhiri konflik. Pernyataan ini memicu kekhawatiran global, terutama menjelang berakhirnya masa gencatan senjata pada Selasa malam waktu Washington.

Baca Juga: Trump Klaim Telah Peringatkan Paus soal Ancaman Nuklir Iran

Ketegangan juga berdampak pada jalur pelayaran internasional. Setelah sempat menyatakan Selat Hormuz dibuka kembali pada Jumat, Iran kemudian kembali membatasi pergerakan kapal sehari setelahnya, dengan alasan kewajiban dari pihak AS belum dipenuhi.

Sebelumnya, Pakistan telah menjadi tuan rumah pertemuan langsung tingkat tinggi pertama antara AS dan Iran di Islamabad pada 11–12 April. Pertemuan tersebut merupakan kontak awal kedua negara sejak memutus hubungan diplomatik pada 1979, namun berakhir tanpa kesepakatan signifikan.

(Sumber: Antara)

x|close