Ntvnews.id, Jakarta - Proses identifikasi jenazah korban kecelakaan antara KRL CommuterLine dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur masih menghadapi sejumlah kendala di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
Kepala RS Polri Kramat Jati, Prima Heru Yulihartono, menyebutkan bahwa hambatan utama muncul saat penggunaan alat identifikasi biometrik.
"Pada saat kita cek menggunakan MAMBIS, identitasnya tidak langsung keluar. Ini menjadi salah satu kendala yang saat ini masih kami dalami," kata Prima dalam konferensi pers, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa Mobile Automated Multi-Biometric Identification System (MAMBIS) merupakan perangkat portabel yang biasa digunakan oleh tim Inafis Polri untuk mengenali identitas korban. Namun, dalam kasus ini, tidak semua data biometrik dapat langsung terbaca oleh sistem.
Selain faktor teknologi, kondisi fisik jenazah juga memengaruhi proses identifikasi. Beberapa korban diketahui mengalami kerusakan pada bagian kepala, sehingga menyulitkan proses pengenalan wajah.
Baca Juga: KAI: Sejumlah Perjalanan KA Dibatalkan Akibat Insiden Bekasi Timur
"Kami menemukan ada beberapa jenazah dengan kerusakan di bagian kepala, sehingga identifikasi wajah menjadi tidak maksimal," ucap Prima.
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim Disaster Victim Identification (DVI) menggunakan metode lain seperti sidik jari, rekam medis gigi, hingga uji DNA guna memastikan identitas korban secara akurat. Meski demikian, RS Polri menegaskan bahwa proses identifikasi tetap dilakukan secara optimal agar jenazah dapat segera diserahkan kepada keluarga.
"Kami upayakan secepatnya, karena kondisi jenazah tidak seperti korban kebakaran yang umumnya lebih sulit diidentifikasi," ucap Prima.
Saat ini, RS Polri telah menerima 10 kantong jenazah sejak Selasa dini hari. Sebanyak tujuh keluarga korban juga telah melapor ke posko DVI untuk memberikan data ante mortem guna membantu proses pencocokan identitas.
Baca Juga: KAI Daop 9 Jember Pastikan Operasional Kereta Tetap Normal Pascainsiden Bekasi
Pihak rumah sakit mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga dalam peristiwa tersebut untuk segera melapor dan membawa data pendukung agar proses identifikasi dapat dipercepat.
Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyampaikan bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat insiden tersebut mencapai 15 orang. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyebutkan bahwa data terbaru hingga pukul 08.45 WIB mencatat 14 korban meninggal dunia, sementara 84 korban luka telah mendapatkan perawatan di berbagai fasilitas kesehatan.
(Sumber: Antara)
Sepuluh kantong jenazah korban kecelakaan antara Kereta CommuterLine dan Kereta Diesel (KRD) jarak jauh di Stasiun Bekasi Timur tiba di Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2026). ANTARA/Siti Nurhaliza (Antara)