Ntvnews.id
"Event dan MICE itu memiliki multiplier effect (terhadap sektor pariwisata). Event tidak hanya menghadirkan aktivitas saja tapi juga menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi destinasi pariwisata maupun juga masyarakat Indonesia," ujar Ni Luh dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa, 28 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa wisatawan yang datang untuk menghadiri acara atau keperluan bisnis umumnya memiliki tingkat pengeluaran yang lebih tinggi dibandingkan wisatawan yang berkunjung untuk tujuan rekreasi (leisure).
Potensi tersebut diyakini mampu terus memperkuat posisi industri event dan MICE sebagai salah satu pilar utama dalam ekosistem pariwisata Indonesia.
Baca Juga: Pramono Hadiri CASC Conference 2025: Jakarta Ramah Industri Ritel dan MICE
"Pertumbuhan ini didorong oleh berbagai tren global termasuk berkembangnya hybrid event. Setelah pandemi COVID-19, ini kita ketemu ada hybrid event, kemudian juga kebutuhan corporate travel dan juga penguatan infrastruktur convention di berbagai negara," ujarnya.
Ke depan, pengembangan industri event pariwisata nasional dinilai perlu difokuskan pada sejumlah aspek strategis.
Di antaranya adalah penguatan regulasi dan tata kelola sebagai pedoman pengembangan industri, peningkatan kapasitas sumber daya, serta standardisasi industri yang didukung oleh konektivitas dan sistem pendukung yang memadai.
Selain itu, pengembangan infrastruktur dan portofolio intellectual property (IP) event yang kompetitif dan berkelanjutan juga menjadi perhatian, termasuk penguatan ekosistem yang mendorong investasi serta penerapan skema insentif yang lebih adaptif.
Upaya lainnya mencakup penguatan strategi pemasaran, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta penerapan prinsip keberlanjutan yang sesuai standar internasional.
"Industri event itu diharapkan tidak hanya tumbuh tapi juga semakin berkualitas, berdaya saing global dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian bangsa ini," kata dia.
Ni Luh juga mengungkapkan bahwa kinerja sektor pariwisata sepanjang 2025 menunjukkan tren yang positif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta orang.
Capaian tersebut melampaui target yang sebelumnya ditetapkan pada kisaran 14 hingga 15 juta kunjungan. Sementara itu, rata-rata pengeluaran wisatawan per kunjungan mencapai 1.267 dolar AS atau sekitar Rp21,83 juta.
Di sisi lain, jumlah perjalanan wisatawan nusantara tercatat mencapai 1,2 miliar perjalanan, melampaui target awal sebesar 1,08 miliar. Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga tercatat sebesar 3,96 persen.
"Di sisi devisa sektor pariwisata juga mencatat kinerja yang positif dengan capaian sebesar 18,27 USD. Kita patut berbangga dengan capaian-capaian ini karena ini kerja sama bersama," ujarnya.
Baca Juga: Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026 di Tengah Tekanan Global
Ia menambahkan bahwa transformasi sektor pariwisata Indonesia hanya dapat tercapai melalui kolaborasi pentahelix, yakni sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan media.
"Kementerian Pariwisata tentu akan terus hadir sebagai mitra strategis bagi industri event Indonesia sekaligus mendorong penguatan kolaborasi dan pengembangan industri pariwisata ke depannya. Dengan fondasi kolaborasi yang kuat tersebut kita memiliki peluang besar untuk membawa industri event Indonesia ke level yang lebih tinggi," tambahnya.
(Sumber: Antara)
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menekankan pentingnya peran industri MICE terhadap kemajuan sektor pariwisata dalam sambutannya di Jakarta, Selasa 28 April 2026. ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti. (Antara)