Ntvnews.id, Jakarta - Di tengah tren elektrifikasi global dan regulasi emisi yang makin ketat, mobil plug-in hybrid (PHEV) yang selama ini dianggap sebagai "jembatan" antara mesin bensin dan mobil listrik murni justru menuai kritik tajam.
Dua petinggi industri otomotif secara terbuka menyebut teknologi ini sebagai solusi yang tidak ideal.
Kepala Polestar Australia Scott Maynard secara tegas menyebut PHEV sebagai "yang terburuk dari kedua dunia". Menurutnya, kendaraan plug-in hybrid menggabungkan kompleksitas mesin pembakaran internal (ICE) dengan sistem penggerak listrik yang berat dan rumit.
Dia mengatakan kepada media lokal bahwa pendekatan tersebut tidak sejalan dengan identitas merek yang fokus pada performa dan keberlanjutan.
"Tidak masuk akal menambahkan mesin bensin ke merek yang membanggakan diri sebagai dinamis, berorientasi pada performa, dan memiliki pesan keberlanjutan yang kuat," ujarnya, seperti dilansir dari Carscoops, Kamis (5/3/2026).
PHEV Disebut "Palsu"
Kritik serupa datang dari CEO Renault, François Provost. Dia bahkan menyebut sebagian PHEV sebagai "PHEV palsu", terutama model dengan jarak tempuh listrik murni yang sangat pendek.
Menurutnya, banyak konsumen jarang mengisi daya baterai karena jangkauan listriknya terlalu terbatas, sehingga mobil lebih sering beroperasi menggunakan bensin.
Beberapa model memang menawarkan jarak tempuh listrik yang cukup kompetitif. Misalnya, Volkswagen Tiguan eHybrid versi Eropa mampu menempuh hingga 75 mil (121 km) berdasarkan standar WLTP.
Namun, ada pula model seperti Mazda CX-60 PHEV yang hanya mampu menempuh sekitar setengah jarak tersebut sebelum mesin bensin kembali aktif.
Solusi: EV dengan Range Extender?
Alih-alih PHEV konvensional, Renault disebut tengah mempertimbangkan kendaraan listrik dengan penambah jarak tempuh (range extender EV).
Dalam sistem ini, motor listrik tetap menjadi penggerak utama, sementara mesin bensin hanya berfungsi sebagai generator pengisi daya.
Contohnya dapat ditemukan pada Leapmotor C10, yang menggunakan mesin pembakaran internal semata untuk menghasilkan listrik, bukan menggerakkan roda secara langsung.
Menurut Provost, konsep ini memungkinkan kendaraan digunakan sebagai mobil listrik untuk kebutuhan harian, namun tetap memiliki cadangan daya untuk perjalanan jauh hingga 1.000 km tanpa kekhawatiran kehabisan baterai.
Regulasi Eropa Makin Ketat
Sementara itu, regulator di Eropa mulai memperketat aturan emisi untuk kendaraan plug-in hybrid. Produsen dipaksa meningkatkan kapasitas baterai agar angka emisi resmi lebih realistis. Akibatnya, beberapa model hampir menggandakan ukuran baterai.
Namun ada konsekuensinya, yakni bobot kendaraan bertambah, efisiensi saat menggunakan bensin menurun, dan mobil tetap harus membawa seluruh komponen sistem listrik dan mesin pembakaran sekaligus.
Mana yang Paling Ideal?
Perdebatan ini semakin memperjelas masa depan otomotif belum memiliki satu solusi tunggal. Apakah kendaraan listrik (EV) murni dengan baterai lebih besar dan pengisian cepat lebih ideal?
Atau justru hybrid dengan range extender yang lebih fleksibel? Ataukah PHEV masih relevan sebagai solusi transisi?
Mobil plug-in hybrid (PHEV) yang selama ini dianggap sebagai "jembatan" antara mesin bensin dan mobil listrik murni justru menuai kritik tajam. (Foto: Istimewa)