Ntvnews.id, Jakarta - CEO Xiaomi, Lei Jun, menegaskan perusahaannya tidak akan merilis mobil listrik murah dalam waktu dekat.
Xiaomi memastikan tidak ada rencana menghadirkan kendaraan listrik (EV) dengan harga di bawah 100.000 yuan (sekitar Rp250 jutaan).
Pernyataan tersebut disampaikan Lei Jun dalam siaran langsung uji ketahanan Xiaomi SU7 pada 17 April 2026, seperti dilaporkan IT Home, sebagaimana dikutip CarNewsChina.
Dia menjelaskan tingginya biaya pengembangan teknologi kendaraan pintar menjadi alasan utama sulitnya menghadirkan kendaraan listrik dengan harga sangat terjangkau.
Menurut Lei, mobil listrik modern kini bukan sekadar kendaraan, tetapi juga mengusung sistem cerdas, software canggih, dan ekosistem teknologi yang kompleks, yang semuanya berdampak langsung pada biaya produksi.
Xiaomi sendiri terus meningkatkan kualitas produknya. Generasi terbaru SU7 disebut membawa lebih dari 100 peningkatan dibanding versi sebelumnya.
Namun, peningkatan tersebut juga membuat biaya material melonjak hingga hampir 20.000 yuan (sekitar Rp50 jutaan), sementara harga jual hanya naik 4.000 yuan (sekitar Rp10 jutaan).
Saat ini, Xiaomi SU7 terbaru dibanderol mulai dari 219.900 yuan (sekitar Rp553 jutaan), jauh di atas batas harga "mobil listrik murah" yang sebelumnya dibahas.
Strategi ini ternyata membuahkan hasil positif. Xiaomi mengklaim SU7 versi 2026 berhasil mengantongi 15.000 pesanan hanya dalam waktu 34 menit setelah peluncuran, menunjukkan tingginya minat konsumen di segmen menengah hingga premium.
Alih-alih terjun ke perang harga di kelas bawah, Xiaomi memilih fokus pada kendaraan dengan spesifikasi tinggi. Perusahaan menargetkan konsumen yang mengutamakan teknologi, performa, dan fitur pintar, dibanding sekadar harga murah.
Lei Jun juga menekankan menghadirkan kemampuan kendaraan cerdas yang kompetitif tetap menjadi prioritas utama Xiaomi, meskipun hal itu berarti harga produk tidak bisa ditekan terlalu rendah.
Di sisi lain, pasar kendaraan listrik di China masih sangat kompetitif, terutama di segmen entry-level. Mobil listrik murah di bawah 150.000 yuan (sekitar Rp300 jutaan) umumnya didominasi model berbiaya rendah dengan fitur terbatas.
Data terbaru menunjukkan segmen ini justru mengalami tekanan. Penjualan mobil kecil dan hatchback kendaraan listrik di awal 2026 cenderung menurun, terutama setelah insentif pajak pembelian dihentikan.
Pada Maret 2026, total penjualan sedan dan hatchback di China tercatat sekitar 844.000 unit, turun 19,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara total penjualan kuartal pertama mencapai 2,13 juta unit, juga turun 20,6% secara tahunan. Di tengah kondisi tersebut, beberapa model masih mencatat performa kuat.
Geely Xingyuan memimpin dengan penjualan 30.953 unit, diikuti Nissan Sylphy (28.093 unit). Sementara itu, mobil listrik seperti BYD Yuan Up dan BYD Dolphin tetap menunjukkan daya saing tinggi.
Namun, segmen mobil listrik murah justru mengalami penurunan tajam. Model seperti Wuling Hongguang Mini EV dan BYD Seagull mencatat penurunan penjualan lebih dari 50% secara tahunan, menandakan tingginya volatilitas di pasar EV harga terjangkau.
Keputusan Xiaomi untuk fokus ke segmen menengah dan premium pun semakin menegaskan arah strategi perusahaan, yakni mengutamakan teknologi dan kualitas, bukan sekadar harga murah.
Xiaomi SU7. (Foto: Istimewa via ArenaEV)