Ntvnews.id, Jakarta - Gelombang demonstrasi anti-pemerintah di Iran yang telah berlangsung lebih dari dua minggu terus meningkat dengan intensitas tinggi. Pada Kamis (8/1/2026), aksi protes besar-besaran yang dipicu oleh kemerosotan ekonomi dan tekanan sosial berubah menjadi bentrokan keras antara warga dan aparat keamanan, dengan laporan penembakan terhadap para pengunjuk rasa.
Seorang dokter di Teheran kepada TIME menyatakan bahwa setidaknya 217 orang telah tewas, menurut catatan enam rumah sakit di ibu kota, di mana mayoritas korban dilaporkan terkena peluru tajam. Banyak di antaranya adalah kaum muda, termasuk mereka yang tewas di sekitar kantor polisi di utara Teheran.
Saksi dan aktivis menggambarkan suasana yang semakin brutal saat pasukan keamanan menembaki para demonstran dengan senapan mesin, menewaskan dan melukai puluhan orang. Namun, angka resmi dari kelompok hak asasi manusia jauh lebih rendah: setidaknya 51 orang tewas, termasuk sembilan anak di bawah umur, dengan ratusan lainnya terluka sejak protes dimulai pada akhir Desember 2025.
Baca Juga: Polisi: Situasi di Iran Sudah Tenang Sehari Setelah Kerusuhan Massal
Dalam upaya membatasi arus informasi, pemerintah mengimplementasikan pemutusan akses internet dan layanan telepon secara nasional sejak Kamis malam, sebuah langkah yang menurut pemantau internasional bertujuan menyulitkan koordinasi demonstran dan menyembunyikan tindakan keras aparat.
Demonstrasi yang telah meluas ke semua 31 provinsi Iran berawal dari kemarahan atas melemahnya nilai tukar rial dan tingginya inflasi, namun kini telah berkembang menjadi seruan kuat untuk penggulingan rezim yang telah berkuasa sejak Revolusi 1979. Para pengunjuk rasa mencatat slogan seperti “Kebebasan” dan “Matilah Diktator,” meski beberapa insiden vandalisme terhadap properti pemerintah juga dilaporkan.
Para pemantau HAM memperingatkan bahwa angka kematian dan penangkapan terus meningkat, sementara pemerintah memperkuat retorika keras terhadap siapa pun yang dianggap “pengacau.” Peringatan hukuman mati dan ajakan untuk menjauhkan anak-anak dari kerumunan semakin menegaskan suasana tegang yang menyelimuti negara tersebut.
Situasi ini telah mendapat perhatian internasional, dengan seruan dari sejumlah negara dan organisasi global agar Iran menahan diri dan menghormati hak kebebasan berekspresi. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda meredanya konflik yang telah menelan korban jiwa dan memecah masyarakat Iran secara mendalam. 
Demo Iran (Anadolu)