Ntvnews.id, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan tekadnya untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan militer Israel terhadap Amerika Serikat. Ia menargetkan dalam satu dekade mendatang, Israel mampu sepenuhnya berdiri sendiri tanpa sokongan militer dari Washington.
Dalam wawancara dengan The Economist yang dipublikasikan, Netanyahu menilai Israel sudah memasuki tahap “kedewasaan” dalam hal pertahanan dan kesiapan militer.
"Saya ingin mengurangi (ketergantungan) militer tersebut dalam 10 tahun ke depan," ujar Netanyahu, dikutip dari Reuters, Minggu, 11 Januari 2026.
Ketika ditanya apakah pengurangan itu berarti hingga benar-benar nol, Netanyahu menjawab tegas, "Ya."
Baca Juga: Indonesia Kecam Keras Kunjungan Pejabat Israel ke Somaliland
Ia mengungkapkan bahwa pesan serupa telah disampaikannya kepada Presiden AS Donald Trump dalam kunjungan terakhirnya. Netanyahu menekankan, meski Israel sangat menghargai dukungan besar Amerika Serikat selama puluhan tahun, kemampuan pertahanan Israel kini telah berkembang secara signifikan dan semakin matang.
Upaya menuju kemandirian militer tersebut juga disertai langkah konkret. Pada Desember lalu, Netanyahu mengumumkan rencana alokasi anggaran sebesar 350 miliar shekel atau sekitar Rp1.600 triliun (kurs Rp4.600) untuk memperkuat dan mengembangkan industri persenjataan dalam negeri.
Arsip - Tank pasukan Israel. (ANTARA)
Program ambisius itu ditujukan untuk menekan ketergantungan terhadap pasokan senjata dari luar negeri sekaligus mengokohkan posisi Israel sebagai salah satu produsen utama teknologi pertahanan di dunia.
Data terbaru menunjukkan ekspor industri pertahanan Israel meningkat 13 persen sepanjang tahun lalu. Kenaikan ini didorong oleh tingginya minat internasional terhadap sistem pertahanan udara berlapis (multi-layered aerial defence systems) buatan Israel yang berhasil menembus pasar global.
Baca Juga: Komite Gereja Palestina Kecam Pembatasan Israel terhadap Bantuan Kemanusiaan di Gaza
Saat ini, kekuatan militer Israel masih sangat bergantung pada perjanjian jangka panjang dengan Amerika Serikat. Berdasarkan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 2016 dan berlaku hingga September 2028, AS berkomitmen memberikan bantuan militer senilai US$38 miliar atau sekitar Rp594 triliun.
Bantuan tersebut terdiri dari US$33 miliar dalam bentuk hibah untuk pembelian perlengkapan militer serta US$5 miliar yang secara khusus dialokasikan untuk pengembangan sistem pertahanan rudal.
Meski Netanyahu bertekad menghentikan ketergantungan itu di masa depan, langkah tersebut diperkirakan akan menghadirkan tantangan besar, terutama dalam menyesuaikan anggaran nasional guna menutup celah pendanaan yang selama ini ditopang oleh Amerika Serikat.
Pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu (kiri) bersama Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Anadolu/py/pri. (Antara)