Bahlil Tegaskan BBM Subsidi Tak Naik di Tengah Kenaikan Harga Diesel Nonsubsidi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Mei 2026, 16:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menanggapi lonjakan harga BBM diesel nonsubsidi di SPBU swasta yang dilaporkan mencapai Rp30 ribu per liter.

Pernyataan tersebut disampaikan di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026, ketika ia dimintai tanggapan mengenai kemungkinan dampak kenaikan harga diesel terhadap BBM jenis gasoline seperti Pertamax.

“Sekali lagi saya katakan bahwa untuk minyak subsidi, baik itu bensin, solar, maupun LPG, tidak akan ada kenaikan. Saya katakan tidak akan ada kenaikan,” ujar Bahlil usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo.

Baca Juga: Rosan Roeslani: Investasi Sumbang 32 Persen Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I 2026

Meski begitu, Bahlil menegaskan bahwa penyesuaian harga tetap diberlakukan untuk BBM nonsubsidi yang digunakan oleh sektor industri atau kelompok tertentu.

“Namun untuk BBM yang sifatnya industri atau hanya untuk orang-orang yang mampu, itu penyesuaiannya berdasarkan harga pasar dan sesuai dengan peraturan menteri SDM tahun 2022,” katanya.

Sebelumnya, sejumlah SPBU di Indonesia secara serentak menaikkan harga BBM diesel nonsubsidi dalam beberapa hari terakhir, baik yang dikelola PT Pertamina (Persero) maupun operator swasta.

Pertamina Dex mengalami kenaikan dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per liter, sedangkan Dexlite naik dari Rp23.600 menjadi Rp26.000 per liter mulai 4 Mei 2026. Di sisi lain, SPBU swasta BP AKR menaikkan harga Ultimate Diesel menjadi Rp30.890 per liter dari sebelumnya Rp25.560 per liter pada 18 April 2026, sementara Diesel Primus di SPBU Vivo juga naik ke level Rp30.890 per liter.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia <b>(NTVnews)</b> Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (NTVnews)

Kenaikan ini diperkirakan akan memengaruhi biaya operasional sektor transportasi barang dan logistik yang masih sangat bergantung pada bahan bakar diesel. Fluktuasi harga minyak dunia serta pergerakan nilai tukar rupiah disebut menjadi faktor utama di balik penyesuaian tersebut.

x|close