Fortune Umumkan Daftar 500 Perusahaan Terbesar di Asia Tenggara 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Jun 2026, 13:59
thumbnail-author
Zaki Islami
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Fortune Rilis Daftar Southeast Asia 500 2026, Trafigura Kembali Puncaki Peringkat Fortune Rilis Daftar Southeast Asia 500 2026, Trafigura Kembali Puncaki Peringkat (ISTIMEWA)

Ntvnews.id, Jakarta – Fortune resmi mengumumkan peringkat Fortune Southeast Asia 500 2026, daftar tahunan ketiga yang memuat 500 perusahaan terbesar di Asia Tenggara berdasarkan pendapatan tahun fiskal 2025. Daftar tahun ini menunjukkan perubahan lanskap bisnis kawasan yang semakin bergerak dari ketergantungan pada sektor komoditas menuju sektor keuangan, teknologi, dan perusahaan unggulan nasional baru.

Untuk tahun ketiga berturut-turut, Trafigura Group, perusahaan perdagangan komoditas yang berbasis di Singapura, menempati posisi teratas dengan pendapatan mencapai US$240,3 miliar. Posisi kedua ditempati perusahaan energi milik negara Thailand, PTT, dengan pendapatan US$81 miliar, disusul Pertamina dari Indonesia di posisi ketiga dengan pendapatan US$70,9 miliar.

Peringkat lima besar dilengkapi oleh Wilmar International dari Singapura dengan pendapatan US$70,4 miliar dan Olam Group dengan US$51,5 miliar. Tiga dari lima perusahaan terbesar dalam daftar tersebut berkantor pusat di Singapura.

Vietnam mencatatkan pertumbuhan paling impresif dalam pemeringkatan tahun ini. Sebanyak 72 perusahaan Vietnam menghasilkan total pendapatan US$177,9 miliar, meningkat 10,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya atau tiga kali lipat rata-rata pertumbuhan kawasan. Meski kontribusi mereka terhadap total pendapatan daftar masih di bawah 10 persen, perusahaan-perusahaan Vietnam menyumbang sekitar seperempat dari total pertumbuhan pendapatan seluruh perusahaan yang masuk peringkat.

Dari sisi jumlah perusahaan, Thailand memimpin dengan 105 perusahaan, sedikit di atas Indonesia yang memiliki 104 perusahaan. Singapura menempatkan 82 perusahaan namun menghasilkan total pendapatan tertinggi, yakni US$657,6 miliar. Malaysia memiliki 93 perusahaan dalam daftar, Vietnam 72 perusahaan, Filipina 42 perusahaan dan Kamboja dua perusahaan.

Sektor energi masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan kontribusi 31,5 persen dari total pendapatan yang dihasilkan oleh 57 perusahaan. Dominasi sektor ini terutama ditopang oleh perusahaan minyak dan gas milik negara yang telah menjadi tulang punggung daftar sejak pertama kali diterbitkan pada 2024.

Namun, dari sisi profitabilitas, sektor keuangan tampil lebih dominan. Meski hanya menyumbang 16,2 persen dari total pendapatan melalui 76 perusahaan, sektor keuangan menghasilkan 43 persen dari total laba perusahaan dalam daftar. Sebaliknya, sektor energi hanya berkontribusi 15,7 persen terhadap total laba.

Ambang batas pendapatan untuk masuk ke dalam Fortune Southeast Asia 500 tahun ini naik menjadi US$440,6 juta, meningkat 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, 500 perusahaan dalam daftar menghasilkan pendapatan gabungan sebesar US$1,878 triliun pada tahun fiskal 2025, naik 3,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total laba mencapai US$150 miliar.

Dominasi perusahaan-perusahaan terbesar masih sangat kuat. Lima perusahaan teratas menyumbang pendapatan gabungan sebesar US$514,1 miliar atau 27,4 persen dari total pendapatan seluruh perusahaan dalam daftar. Sementara itu, 20 perusahaan terbesar menghasilkan US$850,4 miliar atau setara 45,3 persen dari total pendapatan.

Editorial Director Fortune Asia, Andrew Staples, menilai bahwa daftar tahun ini menunjukkan transformasi penting dalam struktur ekonomi kawasan.

"Yang paling jelas terlihat di Southeast Asia 500 tahun ini adalah bahwa Asia Tenggara mulai melepaskan diri dari identitasnya yang bergantung pada komoditas. Kekuatan utama dunia usaha di kawasan ini semakin bergeser ke sektor keuangan, teknologi, dan kelompok baru perusahaan unggulan nasional," ujar Staples.

Daftar tahun ini juga mencatat masuknya 34 perusahaan baru, termasuk dua perusahaan penambangan bitcoin yang berbasis di Singapura. Bitdeer Technologies Group menempati peringkat 401 dengan pendapatan US$620,3 juta, sedangkan BitFuFu berada di peringkat 475 dengan pendapatan US$477,5 juta. Keduanya menjadi perusahaan penambangan kripto pertama yang berhasil masuk dalam Fortune Southeast Asia 500.

Dari Indonesia, dua perusahaan mencatat lonjakan peringkat signifikan. Hartadinata Abadi naik 115 peringkat setelah membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 135 persen. Sementara itu, Barito Pacific melesat 102 peringkat berkat pertumbuhan pendapatan mencapai 220 persen.

Di sisi lain, sejumlah perusahaan mengalami penurunan tajam. Yanlord Land merosot 98 peringkat setelah pendapatannya turun 60,5 persen, sedangkan Lopez Holdings turun 94 peringkat akibat penyusutan pendapatan sebesar 49,5 persen.

Fortune juga mencatat meningkatnya peran perempuan dalam kepemimpinan korporasi. Dari 500 perusahaan yang masuk daftar, sebanyak 40 perusahaan dipimpin oleh CEO perempuan. Salah satu yang menonjol adalah Tan Su Shan dari DBS yang menempati peringkat keenam dunia dan peringkat pertama di Asia dalam daftar Most Powerful Women in Business 2026 versi Fortune.

Dalam pengantar edisi Juni/Juli Fortune Asia, Editor Asia Nick Gordon menulis bahwa daftar Southeast Asia 500 menunjukkan ketahanan ekonomi kawasan di tengah tantangan global. Menurutnya, negara-negara Asia Tenggara berhasil mengatasi dampak tarif dan proteksionisme perdagangan yang meningkat, tetap menjadi bagian penting dari rantai pasokan global, serta terus menarik investasi asing dan didukung oleh pertumbuhan konsumsi masyarakat muda yang melek teknologi.

x|close