BI Yakin Rupiah Menguat pada Pertengahan 2026 Didukung Kenaikan BI-Rate dan Aliran Modal Asing

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Mei 2026, 17:44
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan materi konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Mei 2026 secara daring di Jakarta, Rabu (20/5/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa) Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan materi konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Mei 2026 secara daring di Jakarta, Rabu (20/5/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan keyakinannya bahwa nilai tukar rupiah akan mengalami penguatan pada Juli hingga Agustus 2026. Optimisme tersebut didorong oleh kenaikan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei serta menurunnya tekanan permintaan valuta asing (valas) di dalam negeri.

Perry menjelaskan bahwa penguatan rupiah juga ditopang oleh berbagai langkah BI, termasuk intervensi di pasar valas serta penguatan struktur imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik masuknya modal asing.

“Dengan terus melakukan intervensi, dengan kenaikan BI-Rate, juga dengan perubahan struktur suku bunga SRBI, kami meyakini inflow akan tetap besar ke dalam negeri dan tentu saja akan mencukupi kebutuhan permintaan valas di bulan Juni yang masih cukup besar,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

Ia menegaskan bahwa keputusan menaikkan suku bunga sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen telah melalui pertimbangan matang dengan tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas eksternal dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Perkembangan terkini, berbagi informasi untuk prospek perkiraan ke depan, berbagi risiko-risiko, kita berdebat panjang termasuk bagaimana merumuskan kebijakan,” katanya.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.743 per Dolar AS Jelang RDG BI

Lebih lanjut, Perry menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor global, seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan tarif, kenaikan harga minyak dunia, hingga penguatan dolar Amerika Serikat yang mendorong keluarnya modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi domestik, meningkatnya permintaan valas pada periode April hingga Juni juga dipicu oleh kebutuhan musiman seperti ibadah haji dan umrah, pembayaran utang luar negeri, serta pembagian dividen perusahaan.

Untuk menjaga stabilitas, BI memperkuat intervensi di pasar valuta asing melalui berbagai instrumen, termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Intervensi tersebut turut berdampak pada penurunan cadangan devisa yang sebelumnya meningkat saat terjadi arus modal masuk, meskipun posisinya masih dinilai memadai untuk menjaga ketahanan eksternal.

Baca Juga: Menkeu Optimistis Rupiah Menguat Seiring Masuknya Dana Asing ke Pasar Obligasi

Selain itu, kenaikan imbal hasil SRBI dalam dua bulan terakhir dinilai berhasil menarik kembali arus modal asing setelah sebelumnya terjadi capital outflow pada triwulan I 2026.

Dalam RDG BI Mei 2026, bank sentral resmi menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Suku bunga deposit facility juga naik menjadi 4,25 persen, sementara lending facility meningkat menjadi 6 persen.

BI menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah, sekaligus langkah antisipatif menjaga inflasi 2026–2027 agar tetap berada dalam sasaran 2,5 persen ±1 persen (1,5–3,5 persen).

Kebijakan tersebut mencerminkan fokus moneter BI yang tetap mengutamakan stabilitas (pro-stability), sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro-growth).

(Sumber: Antara)

x|close