Ntvnews.id, Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp30,4 triliun hingga akhir Juni 2026. Capaian tersebut meningkat 24,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).
Sementara itu, laba bersih secara bank only mencapai Rp28,5 triliun per akhir Juni 2026. Angka tersebut tumbuh 25 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp22,8 triliun.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan dalam Paparan Kinerja yang digelar secara daring di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026, mengatakan bahwa komitmen perusahaan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional terus diwujudkan melalui sinergi yang memberikan kontribusi positif secara berkelanjutan.
Kinerja penyaluran kredit juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Hingga akhir kuartal II 2026, total kredit bank only mencapai Rp1.592 triliun atau meningkat 19,9 persen (yoy). Berdasarkan catatan perseroan, pertumbuhan tersebut hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan industri.
Baca Juga: Bank Mandiri Taspen Dukung Proses Hukum Kasus Eks Pegawai yang Jadi Tersangka
Pada segmen ekosistem pemerintahan dan BUMN, penyaluran kredit mencapai Rp489 triliun per Juni 2026 atau naik 41,6 persen (yoy). Pembiayaan tersebut diarahkan untuk proyek strategis, pembangunan infrastruktur, sektor energi, pertahanan, hingga layanan publik.
Di sisi lain, kredit usaha mikro dalam ekosistem UMKM kerakyatan tumbuh 15,7 persen (yoy) menjadi Rp31,3 triliun. Perseroan menilai pencapaian itu memperluas akses pembiayaan yang inklusif dan berkualitas bagi individu, keluarga, masyarakat produktif, serta pelaku UMKM.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga memperlihatkan tren positif. Hingga Juni 2026, DPK Bank Mandiri meningkat 17,1 persen (yoy) menjadi Rp1.710 triliun. Riduan menyebut capaian tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan nasabah sekaligus kemampuan perseroan menjaga pengelolaan likuiditas yang stabil dan berkelanjutan.
Selain itu, total aset bank only Bank Mandiri bertambah 19,1 persen (yoy) menjadi Rp2.349,19 triliun sampai akhir kuartal II 2026.
Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) gross yang turun 10 basis poin (bps) secara tahunan menjadi 0,98 persen.
Baca Juga: Bank Mandiri Taspen Optimistis Kembangkan Silver Economy demi Perkuat Pertumbuhan Bisnis
“Di tengah pertumbuhan yang kuat tersebut, yang sangat penting adalah Bank Mandiri selalu memegang teguh prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit dan pembiayaan di berbagai ekosistem tersebut,” kata Riduan.
Perseroan juga mencatat perbaikan pada rasio loan at risk (LAR) yang menjadi 5,93 persen. Sementara itu, rasio special mention loan (SML) atau kredit dengan kolektibilitas 2 turun menjadi 2,89 persen.
Dari sisi pengelolaan risiko, cost of credit (CoC) bank only tetap terjaga di level 0,52 persen dengan dukungan NPL coverage ratio sebesar 242 persen.
Sepanjang semester I 2026, total pendapatan Bank Mandiri meningkat 10,3 persen (yoy) menjadi Rp60,7 triliun. Adapun net interest margin (NIM) tercatat sebesar 4,37 persen.
Baca Juga: Bank Mandiri Salurkan KUR Rp17,77 Triliun kepada 135 Ribu Pelaku UMKM hingga Mei 2026
Kinerja profitabilitas juga tetap solid dengan return on equity (ROE) sebesar 24,3 persen serta return on assets (ROA) mencapai 3,10 persen.
Efisiensi operasional perusahaan turut dipertahankan, yang tercermin dari rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) sebesar 57,6 persen dan cost to income ratio (CIR) sebesar 35,6 persen. Sementara itu, capital adequacy ratio (CAR) berada di level 17,5 persen.
(Sumber: Antara)
Tangkapan layar Direktur Utama Bank Mandiri Riduan memaparkan materi konferensi pers Paparan Kinerja Kuartal II 2026 secara daring di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026 (Antara)