AHY Sebut Transformasi Transportasi Jadi Kunci Hadapi Tantangan Pembangunan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Jul 2026, 13:35
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjawab pertanyaan dari awak media di Jakarta Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjawab pertanyaan dari awak media di Jakarta (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa transformasi sektor transportasi memegang peranan penting dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan Indonesia pada masa mendatang.

"Di satu sisi, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, pertumbuhan tersebut akan meningkatkan kebutuhan energi dan tekanan terhadap lingkungan. Karena itu, transformasi sektor transportasi menjadi kunci agar ketahanan energi, daya saing ekonomi, dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan,” ujar AHY dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat.

Pemerintah saat ini terus memperkuat berbagai langkah untuk mewujudkan swasembada energi. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan bauran biodiesel, percepatan eksplorasi serta peningkatan lifting minyak bumi, pembangunan kilang dan fasilitas penyimpanan energi, hingga memperluas pemanfaatan sumber energi terbarukan.

Strategi tersebut menjadi landasan dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

Meski demikian, tantangan menuju swasembada energi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi. Dalam kurun lima tahun terakhir, konsumsi diesel nasional tercatat naik 24,5 persen, sedangkan produksi diesel dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 51,6 persen dari total kebutuhan nasional.

Baca juga: Menko AHY: Dekarbonisasi Transportasi Bukan Sekadar Kurangi Emisi, Melainkan untuk Masa Depan Generasi Indonesia

Situasi itu turut memberikan tekanan terhadap anggaran negara. Sepanjang periode 2019 hingga 2024, nilai subsidi dan kompensasi solar mencapai Rp415,84 triliun.

Berdasarkan pemodelan awal yang dilakukan WRI Indonesia, kebutuhan impor solar berpotensi kembali muncul mulai 2027 apabila pertumbuhan permintaan tidak dikendalikan, meskipun impor telah dihentikan pada 2026.

Country Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi mengatakan pembahasan mengenai kendaraan listrik selama ini lebih sering dikaitkan dengan pengurangan emisi gas rumah kaca. Padahal, menurutnya, Indonesia memiliki manfaat strategis lain yang lebih luas dari penerapan teknologi tersebut.

"Pemodelan kami menunjukkan bahwa tanpa perubahan signifikan pada teknologi transportasi, kebutuhan diesel Indonesia dapat mencapai sekitar 87,5 juta kiloliter pada 2040," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kapasitas produksi diesel domestik diperkirakan hanya mencapai 26,5 juta kiloliter.

Baca Juga: Pengguna Transportasi Umum Jakarta Naik 9,7 Persen, Pramono: 230,8 Juta Penumpang hingga Juni 2026

"Artinya, peningkatan pasokan energi saja tidak akan cukup. Kita juga harus mulai mengelola permintaan energi, dan transformasi angkutan barang menjadi salah satu strategi terpenting untuk mewujudkan swasembada energi Indonesia," katanya.

Untuk mempercepat transformasi di sektor logistik, WRI Indonesia meluncurkan Indonesia Freight Decarbonization Accelerator (IFDA) pada 2025.

Sebagai wadah kolaborasi lintas sektor dalam mendorong dekarbonisasi angkutan berat, IFDA telah menggandeng 42 perusahaan dari ekosistem logistik. Keterlibatan tersebut diwujudkan melalui berbagai kajian, forum diskusi, hingga pendampingan implementasi kendaraan berat nol emisi, termasuk lewat Corporate Assistance Program (CAP) yang digelar pada April 2026.

Melalui IFDA, WRI Indonesia juga mengembangkan Truck Route Assessment & Charging Evaluation (TRACE), yakni platform yang dirancang untuk membantu pemerintah dan pelaku industri dalam menilai kesiapan rute, kebutuhan infrastruktur pengisian daya, serta menentukan prioritas pembangunan infrastruktur sebelum investasi dilakukan.

(Sumber: Antara)

x|close