Ntvnews.id, Kalimantan Tengah - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) telah menyalurkan insentif sebesar Rp240 triliun guna mendukung penyaluran 83,8 juta kiloliter biodiesel di Indonesia.
Dana tersebut untuk mempercepat transisi menuju penerapan mandatori Biodiesel 50 persen (B50) berbasis minyak kelapa sawit.
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim mengatakan kebijakan tersebut memberikan dampak besar terhadap perekonomian nasional.
Menurutnya, pemanfaatan biodiesel berbahan baku sawit berhasil menekan ketergantungan terhadap impor solar.
"Untuk pemenuhan kebutuhan bahan bakar nabati atau biodiesel, sekarang sudah program B50 itu sudah Rp240 triliun yang disalurkan, dengan total penyaluran 83,8 juta kiloliter," ucap Zaid, Rabu 29 Juli 2026.
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)
Baca juga: Impor Minyak Indonesia Turun hingga 300 Ribu Barel per Hari Berkat Program B50
Baca juga: BPDP Pastikan Anggaran Masih Aman untuk Dukung B50 dan Solar Murah Nelayan
Menurutnya, penggunaan biodiesel berbasis minyak sawit telah menghasilkan penghematan devisa negara hingga Rp722,9 triliun berkat turunnya kebutuhan impor solar.
Zaid juga menyoroti produktivitas sawit yang lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya.
Dalam hal ini, produktivitas sawit menghasilkan sekitar 4 ton minyak per hektare, sedangkan kedelai hanya sekitar 0,4 ton per hektare dan bunga matahari sekitar 0,6 ton per hektare.
Keberhasilan program biodiesel juga ditopang oleh kontribusi petani rakyat. Sekitar 41 persen luas perkebunan sawit nasional dikelola petani dengan produksi mencapai lebih dari 16 juta ton sawit per tahun.
Sementara itu, sekitar 8 juta orang lainnya bekerja secara tidak langsung, mencakup kegiatan pendukung seperti pengangkutan CPO, penyediaan pupuk dan peralatan perkebunan, hingga penyediaan perlengkapan kantor serta layanan lain yang terkait dengan industri kelapa sawit.
Program Mandatori B50